Petrus: Iman dan Sikap Kritis

sumber: google.com

Oleh: Jear Nenohai

Lukas 5: 4:  Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan

Pada suatu hari Tono dan teman-temannya akan bepergian ke Dieng untuk berlibur. Tono kemudian meminta saudaranya Andre untuk memimpin perjalanan mereka dengan alasan Andre sudah berkali-kali pergi ke Dieng. Mereka kemudian bertolak dari Semarang dan akan menempuh perjalanan kira-kira 3-4 jam. Sesampainya di tengah perjalanan mereka mendapati bahwa jalan menuju Dieng sedang mengalami perbaikan sehingga mereka harus memutar jalan jauh ke Dieng. Waktu perjalanan yang mereka pun bertambah dari 3 jam menjadi 7-8 jam.

Penggalan cerita di atas menunjukan bahwa pengalaman Andre tidak berhasil menjadi jawaban atas persoalan Tono dan kawan-kawannya. Begitupula penggalan cerita di atas menyiratkan pesan bahwa pengalaman bukanlah segalanya. Seringkali orang mengira bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, sayangnya pengalaman tidak selalu mnejadi guru. Artinya ungkapan yang mengatakan bahwa “pengalaman adalah guru yang terbaik” menjadi batal alias tidak sepenuhnya benar.

Pesan untuk tidak selalu bertolak pada pengalaman juga menjadi nyata dalam pengalaman Petrus dan saudaranya Andreas. Pengalaman untuk tidak percaya pada pengalaman itu kemudian menjadi awal perubahan hidup Petrus.

Dalam teks lukas 5: 4-11 diceritakan bahwa Yesus datang untuk berjumpa dengan Petrus di Danau Galiela. Petrus sedang mencari ikan dan tidak mendapatkan apa-apa. Saat itu Yesus menyarankan agar Petrus mendengar perintah Yesus dan menebarkan jalanya namun Petrus tidak mengindahkan Yesus karena mereka sudah semalaman tidak mendapatkan ikan.

Terlihat bahwa dalam hal ini, Petrus menyandarkan tindakanya pada apa yang ia pahami dan bukan pada apa yang Yesus kehendaki. Tentu bisa dibilang Petrus amat lelah pada pekerjaanya karena semalaman mencari ikan. Tetapi dalam hal ini, Yesus mengajak agar Petrus tidak menyandarkan pada apa yang sepenuhnya ia ketahui tetapi pada perintah baru yang Yesus haturkan kepada dia. Mencoba agar tidak melihat ke belakang, kepada pengalamannya yang sudah lalu tetapi melihat kepada perintah baru yang Yesus sampaikan. Akhirnya Petrus berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Keberhasilan Petrus datang dari kebaharuan yang Yesus tawarkan kepada dia.

Pengalaman di hadapan Kesadaran Kritis

Konsep mengenai pengalaman sebagai pengetahuan pernah menjadi sebuah konsep yang kental diterima sebagai kebenaran oleh para kalangan filsuf di Inggris yang menyebut diri mereka para aliran empirisme yang ramai sekitaran tahun 1500-1600. Nama-nama besar seperti David Hume, John Locke banyak menghiasai khasanah pemikiran itu. Empirisme adalah paham yang berpendapat, bahwa sumber utama pengetahuan manusia adalah pengalaman inderawi, dan bukan akal budi semata.[1]

Berseberangan dengan itu, hadir pemikir-pemikir yang menegaskan bahwa pengetahuan manusia lahir dari pertimbangan rasio manusia murni dan hanya pengalaman. Rasionalisme adalah aliran yang berpendapat bahwa sumber utama pengetahuan adalah akal budi yang bersifat apriori, dan bukan pengalaman inderawi. [2] Dasar pemikiran itu kuat digagas oleh Rene Descartes yang hadir dengan slogan utamanya “dengan berpikir maka aku ada.”

Bagi Descartes kesadaran rasio manusialah yang membuat manusia bisa mengetahui sesuatu. Peran rasio hadir seperti foto yang ditangkap lalu dikalkulasi menjadi pengetahuan manusia sehingga bisa membantu manusia memahami apa yang ada pada kenyataan.

Ketegangan antara rasionalitas dan empirisme mewarnai khasanah filsafat Eropa sampai hadir pemikir bernama Imanuel Kant yang memperdamaikan kedua ekstrem itu. Bagi Kant kedua pandangan tersebut haruslah dikombinasikan dalam satu bentuk sintesis filosofis yang sistematis.[3] Pandangan tidak bisa lahir pada satu jenis pola berpikir saja.

Tahap sintesis itu kemudian disebut kesadaran akalbudi atau tahap kritisisme. Bagi Kant, pengalaman (aposteriori) dan akalbudi (apriori) saja tidak bisa melahirkan sebuah pemahaman melainkan harus didorong sampai pada tahap kritis (yunani:critein artinya mempertimbangkan).

Sejatinya bagi Kant, akalbudi manusia mempunyai sistem kerja sendiri yang membantunya mengolah pengetahuan. Teknik Kant ini sering dijuluki sebuah cara kerja “berpikir dalam pikiran.” Pengalaman membawa khasanan pengetahuan hanya saja pengalaman bersifat terbatas dengan kondisi kekinian.

Rasio juga memberi sumbangan bagi pengetahuan, dan sekali lagi, hanya saja pengetahuan juga mendapatkan asupan rekaman pengalaman yang tertanam dalam akalbudi sehingga bagi Kant pengetahuan tidak bisa lahir begitu saja melainkan sudah selalu hasil perpaduan (sintesis) dari pengalaman dan akalbudi.

Jadi, pengetahuan bagi Kant hadir sebagai racikan pengetahuan dan pengalaman. Manusia yang berpikir secara kritislah yang bisa menciptakan pengetahuan yang bijaksana. Contohnya Andi adalah seorang anak yang sudah tidak lolos sebanyak dua kali dalam ujian kepangkatan. Otomatis Andi sudah punya rekaman dalam pikiran mengenai ujian itu. Pada pembukaan kedua Andi mencoba untuk bisa lolos pada tahap yang kedua itu.

Tentu saja Andi harus menggabungkan antar pengalaman (lampau) dan kekurangan pada dirinya saat ini (akalbudi) untuk bisa lolos pada ujian yang akan dia hadapi saat ini. Maka Andi pastilah akan masuk pada tahap kritisisme untuk bisa menggapai apa yang dia mau. Singkat kata, pengetahuan adalah sintesa dari pengalaman dan pengetahuan seperti Kritisme Kant.

Akal Budi dan Iman                                         

Kritsisme menolak pengalaman sebagai sumber primer pengetahuan bagu hidup kita. guru terbaik kita haruslah tahap krisisme dan bukan hanya pengalaman dan rasio murni. Di situlah  Petrus masuk dalam tahap kritisisme dan itulah yang berusaha didorong oleh Yesus dalam percakapan mereka.

Dalam tahap yang lebih jauh, Petrus melangkah pada tahapn perjumpaan iman. Tahap yang dalam istilah Soren Aabey Kierkegaard sebagai “loncatan iman. ”Petrus berhenti pada tahap kritisnya dan menyandarkan pemahamannya itu dalam iman. Petrus tidak melihat kepercayaan sebagai sebuah konsep yang bersebarangan dengan iman malahan harus didahului oleh pertimbangan yang benar.

Dalam tahap ini, Petrus menunjukan bahwa sebuah iman adalah sebuah tindakan yang akal sehat dan iman akan bertumbuh lewati sebuah analisa yang sehat (kritis). Iman tidaklah bertentangan dengan sikap kritis, malahan sikap kritis membuat kita memahami apa yang Tuhan maui bagi kita sekarang atau saat ini.

Iman memang dalam artian tertentu membuat akal sehat kita menjadi buntu tetapi iman tidak bisa dipegang tanpa penalaran yang kritis.

Artinya, iman pun adalah sebuah ruang kritis. Iman lahir dari pikiran yang diarahkan kepada maksud Tuhan dalam kehidupan kita yang dipertimbangkan secara kritis dan diakhiri dalam sebuah kepercayaan. Dalam tahap ini, kita tidak seutuhnya menyandarkan apa yang kita kerjakan pada Tuhan,tidak seperti para orang pemalas yang hanya  tau percaya saja tetapi tidak memiliki sikap kritis dan kita tidak hanya mengandalkan pikiran kita saja dan melupakan pekerjaan tangan Tuhan melainkan kita berusaha memahami maksud Tuhan sambil tetap memegang teguh perkataan Tuhan dalam hati kita.

Dari Petrus, kita melihat bahwa masalah bisa diatas apabila kita tidak menjadikan diri kita dan pengalaman kita sendiri sebagai pedoman kehidupan tetapi menyandarkan pada apa saja yang bisa kita pelajari yang baik. Petrus menunjukan hal itu, ia paham apa yang Yesus katakan dan Petrus percaya akan hal itu. Petrus keluar dari ruang pengalaman dan ia masuk pada tahap iman yang kritis. Petrus berpikir dan percaya pada apa yang Yesus katakan.

Dari sini, kita belajar bahwa pengetahuan yang baik adalah perpaduan antara pengalaman-rasionalitas dan iman. Dengan percaya dengan kritis, kita memahami bahwa ada maksud Tuhan yang bisa kita dapatkan dari berbagai khasanah kehidupan yang kita jalani setiap hari.

Marilah kita beriman dalam pertimbangan dan keyakinan pada apa yang Tuhan firmankan seperti Petrus.


[1] Reza Wattimena, Filsafat Kritis Kant, dalam https://rumahfilsafat.com/2009/07/ diakses pada tanggal 14 Februari 2020.

[2] Reza Wattimena, Filsafat Kritis Kant,.

[3] Reza Wattimena, Filsafat Kritis Kant,.

Valentine Day: Cinta dan Luka

sumber: wallpapersafari.com

Oleh: Jear Nenohai

To love is to be vulnerable
C. S. Lewis

Kamus Britanica mencatat bahwa, juga menurut info dari beberapa sumber, Valentine merupakan sebuah simbol atau peringatan pada Santo Valentine yang bermukim di Roma. Santo Valentine adalah seorang Martir yang diekseskusi pada masa Kekaisaran Claudius II pada tahun 270 dengan cara  dibakar di Via Flaminia.[1]

Santo Valentinus dibakar karena keputusannya untuk melawan keputusan Kaisar Claudius yang melakukan pelarangan pernikahan muda-mudi pada masa itu. Kala itu, Claudius mewajibkan para pemuda untuk ikut ambil menjadi prajurit perang untuk mendukung kekaisaran Roma. Ternyata, para mayoritas pemuda yang ia wajibkan telah memiliki pasangan yang tak rela membiarkan separuh jiwa mereka pergi. Sebagian dari mereka akhirnya meminta Santo Valentine untuk dinikahkan sebelum berangkat perang dan Santo Valentine menerima tawaran itu.

Santo Valentinus mengambil jalan berbeda dari kekuasaan waktu itu. Ia memilih untuk tetap menikahkan pasangan muda yang ingin maju pada jenjang yang lebih serius. Ia melihat bahwa ada rasa pengorbanan yang mereka lakukan dan pengobaranan itu menjadi bagian dari diri Santo Valentine hingga berbuah menjadi sebuah keberanian untuk menikahkan mereka.

Keputusan Santo Valentinus itu membuat ia harus kehilangan nyawanya. Beberapa saat sebelum dieksekusi Santo Valentine dibekam di penjara Roma. Di sana ia mendapatkan kiriman Surat ucapan dari para pasangan yang ia nikahkan. Prajurit penjara saat itu ikut membantunya karena melihat kebaikan dan kepeludian orang-orang yang dibantu Santo Valentine. Akhirnya seorang prajurit saat itu nekat memberikan surat kiriman balik dari Santo Valentine kepada para pasangan tadi. Di akhir surat itu tertulis; For You, From Valentine.

Memhami Cinta Valentinus

Sejarah hari valentine berciri resistensi atau dekat dengan sebuah gerakan untuk menentang rezim otorites. Sadar atau tidak disadari Gerakan Santo Valentinus berbentuk perlawanan terhadap kekuasaan Claudius. Ciri utama dari gerakan itu adalah lahirnya rasa solidaritas dari pada pasangan yang dinikahkannya kepada Valentine. Bila resistensi dan solidaritas itu tidak terjadi, kita tidak akan mengetahui peristiwa itu hari ini. Lebih dari itu, gerakan ini kemudian meluas dan menjadi peringatan yang terus menerus kita lakukan hari ini dalam memperingati hari kematian Santo Valentine pada 14 Februari sebagai hari Valentine.

Dalam terang Cinta iman Kristen, resistensi dekat dengan pemahaman Eros. Kesimpulan mengenai eros ini saya tarik dari sebuah artikel bernas rekan saya Nindyo Sasongko yang berjudul “Eros, Eklesia, dan Resistensi: Sebuah Eksplorasi Konstruktif-Misiologis Peran Gereja di Ruang Publik.”[2] Dalam artikel tersebut, Nindyo menandaskan bahwa Eros selama ini telah dipahami secara keliru karena dikaitkan pada hubungan cinta pasangan berbeda jenis kelamin.

Eros sebenarnya cinta yang lahir dari manusia untuk mentransfromasi dunia sebagai bukti nyata dari Cinta Allah. Dalam artian ini, dunia yang dimaksudkkan tentu saja adalah pergumulan atau tantangan kehidupan manusia dalam bentuk yang masif. Artinya cinta harusnya menyentuh pada ranah yang lebih luas seperti ketidakadilan sosial bagi kehidupan orang banyak.

Eros tidak berada di bawah Cinta Agape melainkan berdiri sejajar. Andar Ismail dalam karyanya Selamat Bercinta menandaskan bahwa Eros sebenarnya adalah sebuah gerakan cinta yang datang dari manusia untuk menyambut kasih Allah itu sendiri.[3] Kasih Allah yang agape dan eros terlihat dalam figur Kristus yang dinyatakan dalam pergumulan hidup Yesus di dunia. Maka saat seorang insan manusia mengerosi sesuatu, ia sedang menghadirkan Cinta yang datang dari Allah.

Sekali lagi, Nindyo dengan mengutip Tillich, mengatakan bahwa ciri Eros adalah partisipatif. Eros mendorong manusia untuk ikut berkarya secara kreatifitas dalam karya penciptaan Allah.[4] Eros menggerakan orang untuk berjalan menuju pelbagai kerapuhan dunia untuk merengkuh kerapuhan-kerapuhan itu dalam kasih ilahi dan dalam cinta yang kretif. Eros mendekatkan seorang kekasih untuk  hadir dan menyembuhkan kerapuhan itu meski dirinya sendiri rentan alias tidak memastikan dirinya untuk tidak menjadi rapuh. Dalam artian ini, eros menjadi cinta yang mengubahkan manusia dan dunia kepada keadaan yang lebih baik oleh karena cinta.[5]

Tujuan Sejati Eros

Seusai mendudukan kembali makna eros sebagai cinta pastisipatif bagi dunia. Saya mengimajinasikan bahwa eros mesti menjadi cinta yang menyembuhkan luka-luka manusia di bumi ini. istilah Luka saya pinjam dari naskah “Misiologi Luka” karya Septemy Lakawa.[6]  Dalam pemahaman Septemy, luka yang dimaksudkan adalah berbagai trauma yang hadir dalam tubuh manusia, baik jasmani maupun psikis, yang timbul dari kekerasan eksternal.

Luka mesti menjadi tujuan misi Kristen agar mendapatkan tempat penyembuhan. Penyembuhan mesti hadir sebagai tindakan bersama bagi kehidupan bersama. Dalam istilah Liliya Wetangterah, orang percaya hidup sebagai komunitas terluka yang saling menyembuhkan.

Eros adalah gerakan dari subjek yang terluka menuju subjek yang terluka lainnya. Kita manusia mencintai dalam keterbatasan kita. Dalam keterbatasan itu, kita saling menyembuhkan satu sama lain dalam eros. Secara mendasar, eros menjadi nyata dalam kehidupan bersama dimana Yesus tidak hanya duduk di Sorga melaikna hadir dan hidup berkasih-kasihan bersama manusia. Cinta Allah bertemu dalam cinta manusia dalam rupa Yesus. dan kini, cinta itu aktif dikerjakan oleh kita satu dengan yang lain sebagai bentuk nyata wajah Allah, wajah eros bagi yang lain.

Dalam pemahaman ini, saya melihat bahwa tujuan eros adalah tindakan untuk hadir untuk menyembuhkan diri yang lain sebab penyembuhan pada orang lain adalah bentuk penyembuhan pada diri sendiri. Saat eros itu hadir, cinta tidak tumbuh dalam keegoisan melainkan hadir untuk membalut luka orang lain. Eros tidak bergerak kepada diri sendiri melainkan bergerak keluar merengkuh orang lain. Ibarat sebuah pelukan yang menghangatkan. Eros meneduhkan dan menyembuhkan subjek yang dierosi.

Valentine dan Saat Ini

Valentine saat ini, bagi saya, telah dimaknai amat jauh pada simbol ketimbang makna asalinya. Valentine dirasakan bermakna apabila cinta itu ditunjukan lewat pembuktian bendawi terhadap perasaan itu. Banyak pusat-pusat pembelanjaan yang menyediakan berbagai bingkisan hadiah valentine untuk masyarakat umum. Jutaan ton coklat, ribuan boneka diborong oleh masyarakat banyak untuk diberikan kepad orang yang disayangi sambil berkata “happy valentine.”

Padahal semestinya, valentine hadir dalam bentuk cinta yang lebih nyata dalam partisipasi yang lebih luas. Saat cinta itu hadir dalam bentuk kepedulian pada luka orang yang ada, baik yang dikenal maupun tidak dikenali, sejatinya kasih sayang itu sudah diwujudkan. Mulai dari hal-hal paling kecil seperti memberikan senyuman untuk menghapus kesedihan pada wajah orang sampai pada pemberian daya, dana, dan waktu. Itulah Valentine.

Santo Valentinus hadir bagi yang lain karena ia ikut merasakan luka ketertindasan pada anak muda zamannya. Cinta itu bersifat kekinian dan partisipatif pada masanya. Luka anak muda itu telah menjadi bagian dalam diri Santo Valentine. Luka itu dibalut lewat parsitipasi Santo Valentine menyembuhan perasaan para pemuda-pemudi itu yang saling mencintai satu sama lain.

Saat ini, makna Valentine semestinya dihayati dalam cinta yang lebih luas dan berjangkar pada perbagai persoalan kehidupan masa kini. Valentine tidak hanya disempitkan sebagai momen tukar kado antar pasangan kekasih saja melainkan dalam kesadaran yang lebih luas. Cinta itu mesti diarahkan kepada mereka yang membutuhkan cinta itu. Diarahkan kepada mereka yang terluka karena dilupakan dan ditindas oleh para orang berpunya dan egois. Cinta yang lebih erotik dan transformatif ketimbang bersifat sempit pada orang-orang terpilih saja.

Valentine itu harus hadir secara erotik sebagaimana Santo Valentinus hadir dalam sikapnya yang erotik dan resisten dulu. Valentine seperti itulah yang mesti kita maknai kembali dan miliki saat ini.

Selamat merayakan hari kasih sayang.


[1] https://www.britannica.com/biography/Saint-Valentine

[2] Nindyo Sasongko, Eros, Eklesia, Resistensi: Sebuah Eksplrasi Konstruktif-Misiologis Peran Gereja di Ruang Publik (dipresentasikan dalam acara Annual Meeting Asosiai Teologi di Indonesia ke-5 di Malang, Jawa Timur tahun 2017).

[3]Andar Ismail, Selamat Bercinta (BPK Gunung Mulia: Jakarta, 2016), 1-4.

[4] Nindyo Sasongko, Eros, Eklesia, Resistensi, 14.

[5] Nindyo Sasongko, Eros, Eklesia, Resistensi, 15-16.

[6] Septemy Lakawa, Misiologi Luka: Mengimajinasikan Ulang Misi di Indonesia Masa Kini, dipresentasikan dalam acara Annual Meeting Asosiai Teologi di Indonesia ke-5 di Malang, Jawa Timur tahun 2017).

Melatih Kesehatan Jiwa Bersama Stoikisme Yunani Kuno

sumber: kreatifBiri.com

Oleh: Jear Nenohai

It’s not what happens to you, but how you react to it that matters.
Epictetus

Sering kali orang mengira bahwa filsafat adalah ilmu yang memaksa orang untuk memahami teori-teori berat yang dilahirkan oleh para filsuf (sebutan untuk para penggelut filsafat) lewat pemikiran yang panjang dan mendalam. Ternyata, pemikiran itu tentu saja salah besar. A. Setyo Wibowo, pakar pemikiran Yunani Kuno, lewat bukunya “Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme (Yogjakarta: PT. Kanisius, 2019),” membantu kita memperluas pandangan kita bahwa yang utama dari filsafat adalah bagaimana memastikan kebijaksanaan itu hidup dalam tindakan kita dan bukan nampak lewat kelincahan berdebat ala sofisme.

Dalam buku tentang Stoikisme ini, Setyo Wibowo mengurai secara panjang lebar dasar dari pemikiran salah satu aliran terbesar dalam filsafat Yunani, selain Plantonis dan Aristotelian, bernama Stoikisme. Stoik adalah aliran yang mengedepankan filsafat sebagai penyeimbang 3 aspek utama dari manusia yakni fisika, etika, dan logika. Tujuan besar Stoik sangat sederhana yakni memandu manusia untuk hidup dalam harmoni alam sebagai Rasio/logos Universal. Apa itu fisika, etika, dan logika dalam filsafat Stoa? Dan apa yang dimaksudkan dengan Rasio Universal? Kita akan membahasnya satu persatu. Bagian akhir tulisan ini akan saya simpulkan dengan penekanan pada filsafat Stoa sebagai media latihan untuk kesehatan jiwa (askesis).

Simpul Fisika, Etika, dan Logika

Penjelasan mengenai hubungan antara fisika, etika, dan logika dalam pengertian Stoik akan saya hantarkan lewat perumpamaan berikut. Andi adalah seorang anak SMA yang sering dirundung oleh teman-temannya. Ia kemudian melatih dirinya dengan kebijaksanaan Stoa agar ia terhindar dari tindakan negatif seperti balas dendam. Andi kemudian mencoba untuk hanya mendengar saja apa cacian teman-temannya dan tidak menggubris hal itu.

Ia (Andi) menenangkan dirinya dengan melihat bahwa apa yang dikatakan teman-temamnya bukanlah apa-apa. Perlahan-lahan emosi Andi kemudian dapat ia kelola dengan baik. ia tidak menggantungkan perubahan diri pada apa yang di luar dirinya melainkan pada dirinya sendiri. Andi kemudian mengarahkan dirinya saja pada apa saja yang ia sedang kerjakan saja karena itu menurut dia lebih membangun dirinya ketimbang mendengar cacian-cacian temannya. Andi berdiri pada tindakanya sendiri dan tak tergoyahkan seperti karang di tengah lautan.

Secara mendasar, Andi sedang melakukan prinsip Stoa yakni fisika, etika, dan logika. Prinsip ini akan kita uraikan satu per satu.

Stoa atau Stoikisme tidak melihat filsafat sebagai upaya mengasah rasio semata melainkan sebuah seni untuk meredam emosi negatif dalam batin. Rasio atau akal-budi pada dasarnya hanyalah sebuah partikel kecil dalam kosmik yang luas ini. Maka bagi Stoa, tujuan rasio adalah melakukan harmonisasi dengan rasio alam universal atau, seperti yang dipahami dalam Platon, Sang Baik (yang nanti di abad pertengahan dibaptis oleh agama Kristen dengan kata Tuhan). Rasio universal atau sang baik itu adalah kenyataan hidup yang nampak dalam keseharian kita, yang dirasakan oleh panca indera kita yang dalam bahasa Stoa disebut fisika.

Pada tahapan fisika, Andi membiarkan dirinya untuk melakukan tidak kontak fisik dengan teman-temannya, ia tidak membiarkan dirinya dijamah oleh ucapan teman-temannya. Yang dimaksud kontak fisik adalah penguasaan panca indera Andi. Stoa percaya bahwa tubuh materi manusia selalu bisa dikendalikan secara utuh. Pengetahuan datang dari pengarahan panca indera pada suara/ilmu yang datang dari luar.

Mata, terlinga, hidung, dan kulit adalah sumber pengetahuan yang pertama. Tidak akan ada pengetahuan apabila telinga dan mata kita tidak diarahkan pada sumber pengetahuan dari alam. Kemampuan Andi mengendalikan fisiknya pada hal yang perlu saja adalah contoh pengendalian fisika.

Pada tahap kedua yakni tahap etika, Andi membiarkan kontak materi itu datang pada dirinya. Jiwa Andi serentak merespon hal tersebut. Patut kita garis bawahi bahwa dalam Stoa, kebijaksanaan juga terletak pada cara kita merespon. Stoisisme membedakan dua jenis objek yang direspon manusia yang disebut prinsip indiffence. Indiferrence adalah konsep dimana kita melatih diri kita untuk menempatkan apa yang ada di dalam kuasa kita dan apa yang ada di luar kuasa kita. Sejatinya bagi Stoa, segala materi di luar manusia atau segala kenyataan di luar diri kita adalah indiffence; sesuatu (being) yang berada di luar kuasa kita.

Stoa melarang keras kita untuk berupaya mengatur atau merespon hal-hal di luar kita sebab itu adalah tindakan yang paling tidak masuk akal untuk dilakukan. Misalnya karena saking mencintai istri kita, kita lalu berkata bahwa ingin hidup selamanya dengan istri kita. Menurut Stoa itu sangatlah tidak bijaksana karena kita memaksakan kehendak kita pada hal-hal yang berada di luar kuasa kita. Bagi Stoa hal yang paling masuk akal adalah kita mengendalikan pikiran dan emosi kita setenang mungkin atau sebijaksana mungkin sehingga kita hidup harmoni dengan alam dengan kata lain tidak berharap agar istri kita tidak abadi.

Pasti banyak yang bertanya, lalu pada moment seperti apakah kita mesti merespon hal-hal di luar diri kita? Apakah stoa adalah para penganut fatalistik atau hidup mengikut pada takdir, berjalan secara apathis saja? Stoa tidak seperti itu? Justru pada tahap inilah keunikan filsafat Stoa itu muncul. Penjelasan lengkapnya akan dibahas pada tahap selanjutnya.

Tahap ke tiga logika. Tahap ini merupakan perpaduan antara fisika dan etika sehingga akan sedikit mengambil banyak tempat untuk menjelaskannya.

Stoa berada pada pijakan yang sama dengan Platon mengenai ide mengenai sang Baik (ultimate Good). Dalam artian ini, logos manusia diupayakan untuk bisa berjalan searah dengan Logos Universal. Ini adalah inti kebijaksanaan Stoa (kepenuhan logos).

Bagi Stoa, orang yang disebut bijak adalah mereka yang  tidak hidup asal-asalan saja dengan mengandalkan emosi sejenak melainkan hidup dengan pemahaman (logika) seluas dunia ini (kosmopolitanisme). Dari sinilah indifference makin terasa manfaatnya saat dimana orang mengandalkan etika untuk menghindarkan dirinya dari penderitaan yang datang dari cara berpikir yang sempit sehingga mengantarkan orang pada keadaan tanpa permasalahan atau Ataraxia (aphateia/absence of troubles).

Barangkali ada yang bertanya, darimana kemudian kita mendapatkan landasan untuk bertindak? Dari sinilah nanti kita melihat keunikan filsafat Stoa bahwa yang penting itu melakukan apa yang baik dan bukan sekedar membicarakannya saja.

Stoa mengakui adanya gerak responsif dan tindakan “pengiyaan” (assent). Etika dalam pandangan Stoa adalah seni memberikan respon pada apa yang perlu kita “iyakan” yang bersifat universal dan apa yang tidak harus ditanggapi karena tidak sesuai dengan logika kosmos. Ada saatnya kita harus merespon pihak luar asalkan kita yakin benar bahwa apa yang akan kita lakukan bersifat rasional dan searah dengan jiwa universal.

Ruang pengiyaan dalam Stoa adalah sebuah tahapan kritis dalam diri seseorang. Saat seseorang ingin memberikan respon pada sebuah kejadian tertentu, katakanlah gempa bumi atau kebakaran hutan. Stoa akan menarik kejadian itu pada dirinya dan berefleksi apakah kejadian itu menjadi bagian yang bisa dikendalikan atau tidak dikendalikan (kembali ke indifference tadi). Apabila ruang itu bisa kendalikan maka Stoa akan memberikan reaksi pada kejadian itu sedangkan jika tidak bisa dikendalikan makan seorang Stoa hanya akan menghadapi dengan tenang dan tidak memberikan respon yang berlebihan.

Seni berpikir kritis atau pengiyaan dalam Stoa ini nantinya disebut Marcus Aurelius sebagai benteng jiwa yakni sebuah upaya untuk bersikap tenang dan tabah dalam menghadapi sebuah situasi agar tidak mengacaukan emosi kita.

Darimana kita tahu mana yang berasal dari kosmos dan bukan berasal dari kosmos? Kata kunci dari pertanyaan itu adalah hidup apa adanya-seada-adanya tanpa menambahkurangi apapun. Hidup yang bijak adalah hidup dengan menikmati semua yang ada tanpa membiarkan emosi kita terikat pada suatu apapun pada segala sesuatu yang tidak terikat pada kita seperti kekuasaan, nafsu makan, kecanduan-kecanduan yang membuat diri kita kemudian berpikir dan bertindak secara sempit.

Orang yang bijak atau logis dalam artian Stoa adalah orang yang hidup bebas dari tekanan apapun yang datang dari hal-hal tak terkendalikan dalam hidup kita. Hidup secara bebas (otonom) dan berhak memutuskan apapun langkah-langkah yang akan dia ambil. Dengan demikian, seorang Stoik tidak akan bertindak gegabah dalam menghadapi sebuah persoalan dan tidak mengalami gejolak emosi jiwa yang datang dari kegagalan kita menangkap harmoni kosmik.

Kembali pada kisah Andi tadi, pilihan Andi untuk tidak terjerumus dalam mainan logika negatif merupakan ciri keteguhan hati dari seorang Stoik. Andi tidak memilih untuk berlelah-lelah menanggapi kesesatan logika teman-temannya yang berbuah pada tindakan bullying yang mereka lakukan pada Andi. Andi sadar benar bahwa tindakan itu tidak mungkin ia hentikan.

Agar tidak diserang sakit hati dan gangguan peredaran darah karena tindakan teman-temannya. Andi memilih untuk menggeser pemahamannya pada kosmos. Melihat berbagai fakta atau kejadian, menikmati setiap saat demi saat hidupnya agar ia bisa menjalani hari-harinya dengan tenang. Andi sedang beralan dalam Stoik.

Di dalam Pikiran yang Sehat Terdapat Jiwa yang Sehat        

Tujuan utama filsafat Stoa, dalam pemahaman saya, adalah untuk mencapi hidup dan harmoni dalam keadaan jiwa yang sehat. Artinya, pola pikir serta tindakan yang bijak sejatinya selalu membawa orang pada jiwa yang sehat. Tentu saja ini sejalan dengan visi  kebahagiaan (ataraxia) dimana Stoa menegaskan agar kita bisa hidup secara harmonis dan terhindar dari berbagai masalah.

Untuk menuju ke sana, Stoa menawarkan sebuah jalan latihan atau jalan hidup yang merek sebut  Askesis. Tujuan utama askesis adalah mengantar orang untuk hidup sejalan dengan logos. Secara mendetail, banyak cara askesis yang ditawarkan Stoa karena Stoa percaya setiap orang punya metode masing-masing dan tidak ada satu metode yang berlaku umum. Secara garis besar, saya membubuhkan dua cara askesis Stoa yang bisa kita gunakan untuk dapat hidup dalam keadaan jiwa yang sehat yakni latihan mati dan agere contra.

Pertama-tama, dalam buku ini, menurut Setyo Wibowo filsafat dalam pandangan Stoa adalah sebuah latihan mati. Kematian dalam Stoik adalah ruang yang tidak bisa kita kendalikan sebab kematian adalah sebuah kepastian hidup. Maka dengan demikian kita harus selalu berpikir dan siap apabila kematian itu datang (memento mori). Dengan begitu menurut Stoa kita sedang berjalan bersama irama alam. Hidup dan mati sesuai dengan kenyataan diri kita seada-adanya.

Latihan kematian dilakukan dengan cara yang sangat mudah yaitu hiduplah sebaik mungkin agar ketika kematian itu datang tidak ada yang perlu kita selalu karena dalam kehidupan kita, kita tidak sibuk mengurusi hal-hal yang di luar kendali kita melainkan hidup dalam ketenangan jiwa setenang alam.

Langkah kedua ialah bertindak sebaliknya (agere contra). Setyo Wibowo memberikan contoh mengenai agere contra dalam kasus kecanduan HP. Orang yang sering menikmati gawai sosial saat ini tidak pernah lepas dari masalah. Mulai dari kehabisan waktu berbuat hal-hal lain yang berguna seperti olahraga, berkumpul bersama keluarga sampai pada stres karena berbagai berita HOAX seperti yang selalu terpampang nyata dalam kehidupan kita saat ini.

Agere contra dalam Stoa akan menjadi pilihan baik bagi orang yang kecanduan gadget seperti di atas. Agere contra dilakukan dengan menjauhkan diri kita dari penggunaan gadget dan menikmati aktifitas kita yang lainnya dengan tenang. Orang yang sedang berada dalam moment agere contra tidak hanya sedang menjauhkan sumber masalahnya secara perlahan melainkan mengembalikan fokus seseorang pada logos universal. Dalam hal ini, kita menggeser cara pandang kita pada apa yang tidak bisa kita kendalikan pada apa yang bisa kita kendalikan. Yaitu pengendalian diri kita pada gadget yang sedang mengendalikan kita.

Dalam agere contra kita sebenarnya juga sedang kembali pada jalan latihan kematian. Kita menolak diri kita terhisap ke dalam ketertarikan untuk melihat gadget sebagai kenikmatan tanpa batas. Menata kembali diri kita agar bisa tidak terjebak pada nafsu apapun, dalam hal ini, adalah tujuan agere contra yang mengantarkan kita pada ataraxia dan kesehatan jiwa.

Menjadi Stoik?

Akhir kata, bagi saya pilihat filsafat Stoa menjadi penting bagi kita masyarakat abad-21 yang disibukan oleh informasi hoax dan rundungan masalah yang datang dari kemajuan ekonomi dan pola hidup yang gila semacam ini.

Stoa menjadi langkah yang kita pakai untuk tetap memiliki ketenangan jiwa mengadapi semua persoalan itu. Tidak membiarkan diri kita terhisap pada berbagai kenikmatan dari luar yang tidak bisa kita kendalikan.

Oleh karena itu, barangkali akan menarik bila kita menjadi Stoik. Bagi saya, pilihan ini baik juga kita lakukan meski Stoa sendiri tidak pernah mengaggap jalan Stoik sebagai satu-satunya metode terbaik dalam menggapai kebahagiaan.

Semua itu kembali pada diri anda masing-masing yang masih peduli pada kesehatan jiwa anda dan rindu akan jiwa yang kuat sekuat tiang teras Stoa.

Selalu Menemukan Keajaiban

sumber: apostrophemagazine.com

Mazmur 19:1-5 Kemuliaan TUHAN dalam pekerjaan tangan-Nya dan dalam Taurat-Nya

(1) Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya;(2) hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. (3) Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; (4) Tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemahdi langit untuk matahari,(5) Yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawanyang hendak melakukan perjalanannya. 

Saat saya mengikuti kegiatan kebaktian penyegaran iman (KPI) di Gereja saya di Nusa Tenggara Timur, saya menemui sebuah kejadian yang mengejutkan.  Sesudah puji-pujian pembuka dilakukan seperti pada kegiatan KPI pada umumnya, ibadah dilangsungkan dengan kesaksian yang disampaikan oleh seorang anak kecil.

Tiba-tiba semua orang termasuk saya merasa heran akan kehadiran anak itu. Seorang anak perempuan yang barangkali baru berusia 6-8 tahun.

Kami semua berekspektasi bahwa ia mengalami sebuah peristiwa yang luar biasa sehingga kesaksiannya harus diperdengarkan kepada kami semua. Kami menunggu kira-kira kesaksian apa yang akan ia sampaikan. Apakah kesembuhan ajaib ataukah penglihatan mukjizat seperti pada kegiatan KPI pada kebanyakan.

Saat anak itu mendapatkan mikrofon, ia pun mulai bertutur;

“Bapak-ibu semua, hari ini saya bersyukur bisa bangun pagi hari. Sesudah bangun pagi, saya memakan nasi goreng buatan mama lalu saya diantar ke sekolah oleh ayah. Saya belajar bersama teman-teman dan pulang sekolah seperti biasa. Lalu sore ini saya diajak ayah untuk ikut kegiatan hari ini menyaksikan mukjizat Tuhan yang saya temui hari ini di sekolah maupun di rumah.” sesudah itu ia mengembalikan mikrofonnya dan turun dari panggung.

Saya dan para jemaat lainnya merasa heran sekaligus kesal karena apa yang ia sampaikan. Bukan menjadi berkat malah kami semua merasa kecewa karena dalam acara semegah ini kami hanya mendapatkan kesaksian dari seorang anak yang bahkan hanya menceritakan kisah ia hari ini. Suara bisik-bisik kecil dari bawah panggung menunjukan bahwa jemaat lain selain saya barangkali juga sedang mengeluhkan hal yang sama dengan saya.

Menjelang 5 menit kemudian, naiklah sang pendeta ke atas panggung dan memulai khotbahnya. Rupanya kesaksian tadi adalah pembuka khotbah ini. Kalimat awalnya dibuka dengan sapaan dan bersambung dengan pertanyaan ke arah kami.

“Para jemaat yang terkasih, saya meyakini bahwa bapak-ibu merasa aneh dan agak kecewa karena melihat kesaksian seorang anak tadi. Mungkin ada yang mengira bahwa kesaksian itu harus ditunjukan lewat sebuah cerita panjang yang dramatis tentang penyelematan Tuhan. Sungguh benar bahwa Tuhan mampu melakukan semua itu seperti deretan mukjizat yang ia lakukan dalam Alkitab tetapi hari ini kisa mesti belahar dan melihat bahwa mukjizat tidaklah hanya datang dalam bentuk kejadian-kejadian mencengangkan seperti yang kita tahu selama ini.

Lanjutnya, “membatasi makna keajaiban pada bentuk-bentuk seperti itu sejatinya juga sungguhlah salah sekaligus menjadi sikap membatasi Tuhan. Tuhan selalu hadir dalam setiap hari kita, berjalan dan beraktifitas bersama kita dan itu pun juga sebuah mukjizat. Mukjizat tidak hanya hadir di saat kita berbeban berat.” Setiap berkat yang kita rasakan mulai dari hal-hal paling kecil sebagaimana yang disaksikan gadis kecil tadi adalah mukjizat. Kita melihat keajaiban itu setiap hari dalam hidup kita karena mujizat bisa datang darimana dan apa saja.”

Apa yang disampaikan pengkhotbah itu saya kira sejalan dengan pesan Mazmur yang kita baca hari ini.

Mazmur 19 menceritakan kemahakuasaan Tuhan dalam segala ciptaan Tuhan, pada langit, cakrawala, siang, malam, dan berbagai ciptaan Tuhan, termasuk hari-hari kita pun sebenarnya tidak luput dari campur tangan Tuhan.

Daud mengajarkan bahwa kita selalu dapat menemukan Tuhan dalam setiap keadaan kita. seperti Daud yang berjumpa dengan Tuhan lewat kecapi dan nyanyian-nyanyian yang ia lantunkan setiap hari. Lirik yang ia gubah pun selalu bercerita seputar alam ciptaan Tuhan yang menjadi media ia menatap keagungan Tuhan.

Albert Eistein pernah mengatkan ada dua cara agar kamu menemukan keajaiban. Pertama anggaplah bahwa tidak ada keajaiban. Kedua anggaplah bahwa semua adalah keajaiban. Saya percaya bahwa keajaiban selalu dapat kita temukan. Ia hadir dalam bentuk yang seolah-oleh biasa saja seperti roti dan minuman yang diberikan rekan kerja kita, hadir dalam bentuk sapaan suami/anak atau istri di pagi hari, mendengar suara dari orang yang kita sayangi lewat telepon,  dalam bentuk traktiran makan dari teman kita dan lain sebagainya.

Marilah kita menjalani hari kita dengan tetap mengingat Tuhan dan seluruh keajaiban yang kita selalu dapatkan dan terkadang terlanjut kita lupakan. Tuhan menolong kita semua.

Filsafat Asia (Zen) dan Filsafat Barat

pinterest.com

Buku “dengarkanlah” adalah karya otentik Reza yang menceritakan pergumulannya dalam melampaui penderitaanya yang hebat saat masih studi di Jerman.[1] Semua itu ia tuliskan secara mendetail pada bagian pengantar buku ini.[2]

Dari sanalah, Reza mengajak kita untuk mengenal dan menyentuh jantung hati dari Zen Budha yang membantu ia melampaui penderitaan hidupnya

Buku pertama Reza tentang Zen[3] ini bisa dikatakan sebagai buku pengantar Zen karena memuat tentang sejarah Zen serta persebaran Zen di Asia dan Eropa. Uniknya dalam buku ini, Saya melihat bahwa terdapat semacam perbandingan yang dilakukan oleh Reza terhadap filsafat barat terkhususnya Eropa dengan Filsafat Timur yang dalam buku ini diwakili oleh Zen Budhisme. Reza tidak hanya menjelaskan tentang makna Zen saja tapi ikut ia perbandingkan (bahasa saya) dengan Filsafat barat. Semua itu dilakukan secara sadar oleh Reza mungkin karena dipengaruhi oleh kepakaran fisafat barat yang sudah didalaminya selama 15 tahun sebelum mendalami Zen.

Di samping itu, perbandingan yang ia lakukan, bagi saya, juga merupakan bagian penjelasan lebih lanjut mengapa filsafat barat tidak membantu ia keluar dari penderitaan yang ia alami seperti yang dijelaskannya pada ulasan pengantar. Penyembuhan mental-spiritual yang ia cari malah ia dapatkan dalam filsafat Zen. Perbandingan tersebut akan saya bahas sebagai sumber informasi tentang makna Zen hasil gubahan Reza dalam buku ini.

Perbandingan pertama yang sangat mencolok adalah perkara akal budi. Zen adalah jalan menuju kesadaran universal dan utuh. Untuk mencapai tahap itu, manusia dituntutn untuk hidup dan  berpikir sebelum “akal budi.” Dalam Zen, akal budi hanyalah salah satu perangkat atau alat bantu manusia dalam kosmis. Sejatinya hidup manusia sudah selalu mengalami kemenyatuan dengan alam sehingga hidup manusia yang paling utama adalah menikmati keseharian secara alami.

Hidup secara alamiah menjadi penting karena membawa manusia untuk keluar dari jebakan-jebakan akalbudi atau konsep yang kerap kali membawa manusia pada penderitaan. Manusia pada hakikatnya sudah selalu menyatu dengan alam sehingga mustahil apabila hidup manusia hanya sekedar didasarkan dan disandarkan  pada akal budi. Dalam Zen, tidak ada pembedaan tegas atau kekhasan antara manusia dengan ciptaan lainnya. Akal budi hanya salah satu aspek kemanusiaan sekaligus aspek yang amat atomik dalam semesta. Semua manusia dan ciptaan adalah setara. Semua ciptaan menyatu dan tidak ada pembeda tegas seperti yang dilakukan oleh banyak ilmu saat ini. Dalam zen, semua adalah “satu.”

Zen mengajak kita untuk hidup sebelum rekayasa rasional manusia. Hidup kembali menyatu dengan alam dan semesta seperti yang sebenarnya harus terjadi. Kemenyatuan yang dimaksud adalah seperti berirkut; Zen memberikan contoh tentang nasi. Sebutir nasi sejatinya tidak hanya sekedar nasi. Sebuah nasi sudah selalu tercampur dari zat hara tanah karena ditanam di tanah, tercampur air, dan tercampur sinar matahari. Nasi-nasi yang kita makan kemudian berbaur dalam tubuh dan membantu manusia untuk hidup sehari-hari. Artinya seluruh kedirian manusia selalu terikat dan berjalan dalam irama alam. Udara yang kita hirup, angin yang kita rasakan, darah yang mengalir dalam tubuh kita berjalan dalam irama mereka sendiri tanpa kita atur. Maka hidup manusia sejatinya, seharusnya, dan sebaiknya berjalan dalam irama kosmik. Berjalan bersama alam.

Lain halnya dengan filsafat Asia, Filsafat Eropa amat mengandalkan akal budi. Hidup manusia harus dijalankan dan diatur dalam terang akabudi. Kebudayaan seperti itu, menurut Reza, sudah berjalan sejak Rene Descartes mengumandangkan dasar hidup pencerahan Eropa “aku berpikir maka aku ada.” Paham Descartes diilhami sebagai panduan baku kehidupan Eropa. Tentu tidak hanya itu saja, kebudayaan Eropa amat melekat dengan akal budi manusia. Segala kemajuan hidup dan berbagai standar kehidupan berjalan sesudah sesuatu diterima menurut akal budi. Dan dari akabudilah, yang akan saja jelaskan pada bagian berikut, manusia mulai mengalami penderitaan.

Perbandingan kedua adalah perkara penderitaan. Tema melampaui penderitaan adalah salah satu kekhasan buku ini.[4] Asal mula segala penderitaan adalah pikiran manusia. Kita (manusia) sering mengandalkan pikiran kita atau konsep yang kita ciptakan untuk menentukan standar kehidupan kita dan, yang tak terhindarkan, kebahagian kita sendiri. Tanpa kita sadari, menurut Reza, kita sedang menciptakan penderitaan kita sendiri. Dengan kata lain, penderitaan selalu hadir pada saat yang sama kita memikirkan tentang berbagai hal. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Pertama-tama, seperti yang saya jelaskan di atas, Zen selalu mengajak kita hidup sebelum akal budi. Artinya kita kembali ke keadaan alamiah itu sendiri. dalam Zen, akal budi bukanlah kenyataan yang alamiah dan hanya sekedar ilusi.  Akal budi memabwa kita terjebak dalam dua hal yakni konsep dan bahasa. Konsep dan bahasa menurut Reza adalah kenyataan rekaan yang membantu manusia menderita.

Sebagai contoh, saya suka dengan sebuah kopi yang manis. Kopi yang manis adalah kenyataan yang saya ciptakan. Inilah konsep yang dibantu oleh bahasa. Akhirnya saya menjadi tidak semangat dan senang apabila saya disuguhkan kopi yang tidak manis. Ini juga merupakan konsep dan bahasa. Alhasil apa yang membuat saya tidak menderita adalah keberadaan kopi yang tidak manis. Penderitaan dikarenakan menerima kopi pahit adalah konsep penderitaan yang saya lakukan.

Dalam Zen, konsep seperti contoh tadi ditolak karena bersifat ilusi dan membuat manusia mmenderita. Zen lalu mengajak manusia untuk hidup melampaui konsep yakni hidup sebelum “saya” menciptakan konsep kopi itu. Kembali ke jati diri sendiri dan tidak tinggal dalam apa yang kita ciptakan sendiri. kita mesti hidup dalam kenyataan alamiah. Sebelum ada konsep dan sebelum kata.

Resa memberikan contoh tentang Zen memandangi bulan. Apabila kita melihat secara seksama. Bulan, bintang, dan matahari selalu alami pada dirinya sendiri. mereka bukan bulan, bintang, dan matahari. Ketiga kenyataan tadi indah pada diri mereka sendiri, ada sebagaimana mereka ada tanpa kita otak-atik. Bulan, bintang, dan matahati hanyalah konsep kita dan sebenarnya tidak demikian. Konsep kita membuat ketiga beda tadi menjadi terbatas dan rentan terhadap penderitaan. Maka ungkapan tentang pungguk merindukan bulan adalah ungakapan penderitaan karena konsep yang keliru tentang bulan. Sang pungguk menderita karena konsep kita. dalam pandangan Zen, pungguk tidak pernah menderita karena pungguk tidak benar-benar pungguk. Bulan tidak benar-benar bulan. Mereka semua hanyalah konsep. Konsep yang rentan penderitaan.

Konsep kemudian tidak hanya tinggal dalam diri manusia sendiri. ia dibawa dan disepakati dalam kehidupan sosial alias diberlakukan Universal. Rene Descartes tidak akan disebut sebagai bapak masa modern apabila konsep logika Cartesiannya ia pakai sendiri tapi diterima sebagai dalil masyarakat Eropa pada waktu itu. Dimensi sosial dari konsep ini kemudian membawa penderitaan yang lebih luas.

Reza bahkan mengatakan bahwa banyak penderitaan masal seperti perang dunia, Perang di Timur Tengah, kekejaman Nazi Hitler, ekspansi kolonialisme Eropa juga adalah bentuk penderitaan yang tercipa karena energi konsep atau akal budi. Kemelekatan yang terlalu berlebihan pada akalbudi membuat manusia suka membeda-bedakan kenyataan hidup dan memperbandingkannya untuk mencari mana yang terbaik dan tidak baik. dalam konsepsi Descartes, hal ini dikenal sebagai model clear and distict yakni pemisahan kenyataan secara jernih untuk mencari kekhasan atau bahasa pembeda agar kenyataan makin dikenali secara sempurna oleh akal budi. Dalam Zen, pembedaan selau ditolak karena kerap menjadi awal dari pemecah belah sebab kenyataan selalu satu dan alami.

Oleh karena itu, dalam Zen, penderitaan adalah kenyataan manusia tapi tidak bersifat manusiawi atau alamiah. Penderitaan adalah kenyataan buata. Dalam filsafat barat, justru penderitaaan adalah kenyataan manusiawi. Paham ini malah bertolak belakang dengan Zen Budha. Filsafat barat memandang penderitaan sebagai kenyataan alamiah. Kemampuan manusia adalah juga menderita. Penderitaan lahir karena kesalahan tertentu seperti dosa dalam ajaran agama. Maka cara melampaui penderitaan adalah menciptakan sesuatu untuk melampaui itu. Misalnya mobil dan motor diciptakan untuk membantu manusia melampaui sebuah penderitaan yang disebut jalan kaki.

Perbandingan ketiga adalah bertindak kontekstual. Seperti pada berbagai jenis pemikiran, Zen juga mengakui adanya aspek tindakan. Namun aspek tindakan yang terbaik bagi Zen adalah tindakan kontekstual. Zen menolak adanya aspek kalkulasi akalbudi yang ribet-ruwet sebelum bertindak. Tindakan manusia hendaklah dilakukan secara spontanitas. Bertindak secara alamiah tanpa ada unsur kalukali apapun yang terlalu berlebih yang pada dasarnya membawa pada penderitaan. Bertindak kontekstual adalah bertindak sesuai dengan apa yang terjadi adalah aspek moral tertinggi dalam Zen.

Untuk dapat bertindak kontekstual, Zen mengedepankan apa yang disebut “pengalaman langsung.” Aspek utama dalam kehidupan mansuai bukanlah akabudi universal ala Filsafat barat, maksudnya kita melakukan tindakan karena sesuatu itu dikenal umum sebagai sebuah kebaikan. Misalnya mempersilahkan perempuan duluan karena budaya mengedepankan penghormatan pada perempuan, memberikan makanan karena dianggap bermoral dalam agama. Bukan seperti itu. Pengalaman langsung adalah aspek bertindak atas apa yang terjadi di sini dan saat ini. Pengalaman langsung adalah keadaan alamiah manusia terhadap apa yang sedang berlangsung.

Untuk dapat menikmat apa yang disebut sebagai pengalaman langsung. Manusia mestilah melakukan segala aktifitasnya secara alamiah, berada secara “apa adanya.” Apa yang dimaksud “apa adanya.”

Aspek “apa adanya” adalah sesuatu yang, bagi saya, unik dan menjadi kekhasan Zen. Seperti model perbandingan pertama, Zen Budha menolak apa yang disebut konsepsi. Konsepsi ini juga termuat aspek terkenal terkait waktu yakni masa lalu, sekarang dan masa depan. Zen menolak aspek masa lalu dan masa depan bagi Zen hanyalah ilusi pikiran. Zen hanya  menerima aspek sekarang atau keadaan saat ini.[5] Mengapa demikian?

Dalam kehidupan secara alamiah,  pikiran tidak menjadi hal utama tetapi keberadaan secara alamiah. Bertindak atas apa yang sedang terjadi “saat ini.” Tentu apabila kita tidak mendasarkan diri pada pikiran maka secara otomatis memori menjadi tidak aktif. Aspek masa lalu dan masa depan adalah buah dari memori. Dalam Zen, dan sebenarnya filsafat secara umum, memori adalah ruang kalkulasi konsep-konsep, dengan demikian masa lalu dan depan hanyalah ilusi.

Menurut Reza, aspek saat ini adalah kunci utama manusia menjalani kehidupan. Karena pasalnya, masa lalu dan masa delah tidaklah nyata. Sayangnya banyak manusia yang mendasarkan kehidupan pada kedua konsep tadi dan lupa menjalani kehidupan saat ini dan tentu saja lupa bertindak kontekstual. Bertindak kontekstual membantu manusia melampaui penderitaan yang lahir karena konsep berlebihan serta tekanan masa lalu serta ketakutan terhadap masa depan.

Bertindak kontekstual berarti bertindak atas apa yang saat ini sedang terjadi. Jikalau kita sedang berbicara maka berbicaralah, makanlah saat sedang makan, minumlah saat sedang minum, semua yang kita lakukan saat ini lakukanlah demikian. Tidak usah ditambah aspek apapun. Menikmati apa yang sedang berlangsung maka semuanya akan sangat apa adanya.

Aspek kontekstual Zen Budha bagi saya amatlah sederhana atau dengan kata lain mudah untuk dilakukan dan dipahami. Jujur saja, kontekstualisasi filsafat barat jauh lebih rumit sekali untuk dipahami dan dilakukan. Kontekstualisasi dalam filsafat barat bisa kita pahami sebagai peleburan antara horzion kehidupan manusia. Pasalnya, kontekstualisasi itu sendiri berasal dari dua kata yakni con (pertemuan atau perbauran) dan text. Jadi kontekstualisasi adalah persilangan antar-teks. teks itu bisa berupa apa saja seperti kebudayaan, bahasa, ajaran agama dan lain sebagainya.

Misalnya contoh yang paling saya sering temukan adalah kontekstualisasi dalam ajaran Kristen. Bila kita membaca kitab Mazmur maka kita akan sering kali menemukan kata domba sebagai “kurban” persembahan umat Israel. Jelas saja sebab domba adalah binatang utama bagi Israel untuk dijadikan korban. Memang, kadang ada juga lembu tambun yang dipakai tapi domba masih lebih dominan. Nah, dalam kebudayaan tertentu misalnya masyarakat Papua Indonesia. Binatang Domba amat sulit didapatkan dan binatang khas Papua adalah babi. Maka mayoritas Kristen Papua akan lebih suka menggunakan Babi sebagai binatang kurban. Inilah contoh dari kontekstualisasi. Ada perbauran makna dan tentu saja tindakan Alkitab pada kebudayaan orang Papua.

Ketiga aspek tadi; kontekstualisasi, akalbudi, dan penderitaan merupakan tema umum yang akan sering kita temukan dalam buku ini. Semua itu menjadi dasar pemahaman yang amat penting untuk kita bisa hidup secara alamiah dan melampaui penderitaan. Semua itu mesti dijalankan bersama. Hanya orang yang mampu berpikir sebelum akalbudi dan bertindak konstekstual yang akan mencapai pencerahan batin. Hidup apa adanya.

Tapi semua itu saja tidak cukup untuk membantu kita memahami Zen. Dalam Zen, tidak ada awal dan tidak ada akhir. Kehidupan terlalu kaya dan rumit untuk dirumuskan dalam konsep baku. Bahkan, menurut Zen, kata Zen itu sendiri kosong alias tidak ada. Zen menghendaki dan membawa kita pada keadaan hidup yang alamiah. Hidup sebelum konsep. Bertindak secara kontekstual dari saat ke saat.

Di sini juga menjadi keunikan Zen. Zen hanyalah salah satu metode yang bermaksud membawa orang kembali ke diri mereka sendiri. hidup apa adanya. Reza mensejajarkan metode Zen ini dengan ironi Socrates. Si Socrates dalam sejarah filsafat Yunani dikenal sebagai orang yang suka bercakap-cakap dengan orang lain untuk membantu orang mengenali diri mereka sendiri. tapi sang Socrates malah selalu mengatakan bahwa “ia sendiri tahu bahwa ia tidak tahu apa-apa.” Zen juga demikian, Zen bertujuan untuk mengembalikan orang ke dunia itu sendiri namun Zen sendiri tahu bahwa Zen adalah sebuah konsep. Yang berarti Zen juga berpotensi membawa kepada penderitaan dan tidak pantas diikuti.

Saat saya membeli buku ini, Ka Reza berpesan kepada saya untuk tidak hanya membaca tapi melakukan apa yang saya akan maknai dari buku ini. Inilah kunci Zen, Zen tidak hanya bisa dipahami dan tidak harus dipahami. Zen adalah kehidupan alamiah manusia. Keadaan sejati dari diri manusia. Menjadi manusia berarti hidup dalam kemenyatuan dengan alam sebab pada dasarnya manusia itu sendiri adalah unsur alamiah. Hanya saja kita terkadag lupa untuk menjadi apa yang telah menjadi hakikat sejati dari manusia.

Menjadi Zen berarti bersikap apa adanya. Zen melarang manusia untuk membakukan Zen sebagai sebuah ajaran absolut dan yang terbaik. Justru, Zen mengehendaki agar kita semua hidup menjadi diri sendiri. menjadi apa yang harus kita gapai sehari-hari. Inilah inti manusia yang sejati. Menjalani kehidupan dari saat ke saat. Tanpa tambahan atau embel-embel apapun sebab keadaan yang terlalu diperumit oleh konsepsi kerap membawa manusia kepada kemelekatan kehidupan yang berujung pada penderitaan.

Zen melarang orang untuk hidup terlalu umum dan khusus. Kehidupan terlalu luas untuk dirangkum dalam konsepsi yang hitam putih. Menjadi manusia adalah hidup secara alamiah. Melampaui kehidupan yang diikat oleh konsep sistemik (Filsafat Eropa) dan melampaui Zen itu sendiri.

Zen mengajak kita kembali kepada apa yang menjadi jati diri kita. hidup dari saat ke saat sebagaimana adanya. Bertindak kontekstual atas pengalaman yang hadir saat ini di sini.

Tanggapan Pribadi

Zen Budha bagi saya tidak rumit juga tidak begitu sederhana. Tujuan Zen adalah membuat kita mengenali laku kita hari lepas hari. Saya cenderung setuju bahwa kenyataan konseptual hanyalah ilusi rekaan yang membuat kita menderita. Hidup yang sejati adalah bertindak apa adanya. Hidup sebagaimana adanya.

Hidup apa adanya adalah tantangan manusia dewasa ini yang diselimuti oleh berbagai kenyataan hidup yang membawa kita pada berbagai-bagai penderitaan dunia. Penderitaan yang sebenarnya tidaklah nyata dan yang kita ciptakan sendiri.


[1] Reza. A. A. Wattimena, Dengarkanlah Pandangan Hidup Timur, Zen, dan Jalan Pembebasan (Jakarta: Karaniya, 2018).

[2] Sang Penulis hampir bunuh diri karena  harus bercerai dengan mantan istrinya,pada saat yang sama harus berduka karena kepergian ayahnya, dan di saat yang sama juga harus terlunta-lunta mengalami krisis ekonomi saat melaksanakan studi di Jerman.

[3] Saya sebut buku pertama sebab ada buku jilid kedua dari buku ini; Mencari Ke dalam, Zen dan Hidup yang Meditatif (2018) yang juga diterbitkan oleh Karaniya serta buku lainnya yang katanya akan segera terbit.

[4] Tepat seperti yang dijanjikan karena memang Reza memaksudkan paga bagian pengantar. Ia berharap agar sesudah membaca buku ini para pembaca bisa secara bijak memahami dan menerima penderitaan dalam laku hidup sehari-hari.

[5] Sebenarnya aspek “saat ini” dalam Zen juga tidak benar-benar ada dan akan saya jelaskan nanti.

Corpus Christi: Mungkinkah Kita Menjadi Seperti Kristus?

sumber: gkipi.org

Bacaan Lukas 13: 6-9 tentang pohon ara amat sering dipakai dalam pembacaan tentang pertumbuhan spiritualitas iman Kristen di tengah tantangan zaman. Hidup sebagai orang Kristen sering dimetaforakan sebagai sebuah pohon yang tumbuh subur, berakar kuat dan berbuah segar.

Sebuah iman yang baik adalah iman yang menghasilkan buah seperti pohon ara yang berbuah lebat. Sebaliknya, iman yang tidak baik itu seperti pohon ara yang tidak berbuah alias kering. Pohon yang tidak berbuah adalah hasil dari tanda spirtualitas yang lemah. Bisa dikatakan seperti orang hanya sibuk menghafal ayat tapi tidak menghidupkan ayat itu dalam kata dan tindakan sehari-hari.

Iman kemudian tidak berakar pada ajaran Kristus secara mendalam sehingga tidak ada hasil apapun yang darinya. Seperti pepatah mengatakan, sebuah pohon dikenal dari buahnya. Jika kita mengatakan kita orang Kristen, maka mestilah buah yang kita hasilkan memiliki cita rasa Kristus.

Lantas bagaimana cara agar kita bisa menghasilkan buah ara yang segar yang dapat dinikmati banyak orang?

Dalam perbincangan mengenai spiritualitas Kristen, orang Kristen dahulu amat mengedepankan bentuk spiritualitas sebagai “imitatio christo” atau hidup seturut dengan Kristus. Orang Kristen yang baik adalah mereka yang hidup persis sama seperti Kristus. Mengikut Kristus berarti hidup sama seperti Kristus. Ide ini lahir dari seorang bapak Gereja bernama Thomas Kempis dalam bukunya imitatio Christo.[1]

Fenomena meniru Kristus begitu erat pada abad pertengahan dimana lahir orang-orang yang hidup di biara-biara atau seminari-seminari yang hidup seperti Kristus bahkan sampai pada hal yang sangat ekstrem seperti tidak menikah karena Yesus sendiri tidak menikah. Fenomena ini bahkan masih kita temui sampai sekarang dalam berbagai tradisi Kristen dahulu dan sekarang.

Dalam percakapan kehidupan Kristen, fenomena “meniru Kristus” ini dalam pemahaman beberapa pakar spiritual dinilai tidak selalu bisa dipertahankan karena beberapa alasan mendasar. Pertama pendasaran mengenai imago dei, kita manusia adalah ciptaan yang dijadikan segambar dan serupa dengan Allah. Dalam makna aslinya, imago berarti tiruan Allah.

Kita manusia selamanya hanya ciptaan tiruan dan tidak akan pernah bisa seperti Allah. Maka dari itu, kita hanya berupaya untuk sama seperti Allah. Oleh karena itu, para manusia-manusia yang ingin menjadi Allah seperti Firaun di masa musa, Hitler di Jerman, dan bahkan presiden Amerika Donald Trump yang mengathakan bahwa ia adalah “the chosen one” atau “raja Israel” ditolak habis-habisan karena tidak sesuai dengan kehendak Alkitab.[2] Singkatnya kita tidak bisa persis sama seperti Yesus.

Berjalannya waktu, orang Kristen memikirkan cara baru untuk hidup dalam keadaan diri yang baik. Pada abad 13, para bapak-bapak Gereja mengembangkan sebuah pemahaman baru untuk mengganti imitatio christo dan digeser menjadi participatio atau corpus christi yang berarti berpartisipasi bersama Kristus.[3] Pemahaman ini dibangun di atas liturgi perjamuan terakhir (last supper) dimana Yesus mengajak kita untuk bersama-sama mengambil bagian dalam karya kudusnya dengan diawali lewat perjamuan bersama.

Beranjak dari corpus christi, maka bentuk spiritualitas tidak lagi berbicara soal bagaimana agar kita menjadi sama seperti Kristus namun bagaimana kita dengan segala apa yang kita punyai, kita pakai untuk bisa ikut bersama-bersama melayani dunia dengan Kristus.

Kita pun mengingat bahwa para rasul tidak mengikut Yesus untuk mengganti Yesus tetapi mengandalkan semua apa yang mereka miliki untuk melayani bersama Kristus. Dari awalnya ingin meniru Kristus tetapi tentu tidak akan bisa, diganti menjadi berjalan dan melayani bersama Kristus dengan segala talenta yang dikaruniakan Roh Kudus kepada kita semua.

Berbicara tentang berpartisipasi bersama Kristus. Pada kehidupan kita sekarang ini, saya kira tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa kita adalah tumbuhan yang hidup di dalam taman kehidupan ini. Kita hadir dengan segala keberadaan kita. Kita dituntut untuk bisa berpartisipasi bersama Kristus lewat segala buah yang harus kita hasilkan.

Maka saya ingin bertanya kepada kita, sudahkah kita yakin bahwa kita layak untuk ikut berpartisipasi dalam karya Kristus bagi sesama di dalam kehidupan kita ini atau dengan kata lain sudahkah kita hadir sebagai pohon Ara yang berbuah manis untuk sesama kita?

Jikalau belum, marilah kita memastikan diri kita layak untuk hadir dan berkarya bagi orang lain mulai dari hal-hal besar seperti memberikan keindahan baik dalam kata dan tingkah laku untuk orang lain sampai pada hal-hal yang paling sederhana seperti melebatkan daun-daun kita agar kita bisa memberikan kerindangan bagi orang lain yang bersandar pada kita.

Marilah kita melihat panggilan ini sebagai aktifitas untuk dan bersama Kristus sebagai perjalanan spiritualitas kehidupan kita di bumi ini. Maka daripada itu usaha pelayanan kita tidak lagi beranjak dari apa yang Kristus punyai melainkan pada apa yang ada pada diri kita yang telah Kristus berikan kepada kita. Barangkali tidak semua kita bisa memimpin, sekretaris, atau forografer yang baik, maka biarlah kita melakukan hal-hal sederhana seperti menjadi anggota-anggota yang baik.

Jikalaupun kita tidak bisa memainkan alat musik atau bernyanyi dengan baik maka relakanlah diri kita untuk menjadi sesi perlengkapan yang baik yang bisa memastikan bahwa segala perlengkapan telah tersedia dengan baik. Biarlah kita memakai hal yang paling kecil dalam diri kita karena itu semua berharga di mata Tuhan.

                Apapun yang kita lakukan, serahkanlah itu semua sebagai bagian dari pelayanan kita untuk Tuhan di dalam partisipasi agung ini.


[1] Thomas Kempis, Imitatio Christo (Value Classic Reprints: Newyork and London, 2016 second edition), 10.

[2] https://dunia.tempo.co/read/1289290/trump-bagikan-meme-klaim-yesus-lebih-suka-dirinya-dibanding-obama/full&view=ok baca juga Bayu Probo http://www.satuharapan.com/read-detail/read/washington-post-donald-trump-promosikan-injil-kemakmuran  diakses pada tanggal 22 Januari 2020.

[3] Aisling Moloney, “What is Corpus Christi and What is it celebrated?” https://metro.co.uk/2017/06/13/what-is-corpus-christi-and-why-is-it-celebrated-6705794/ diakses pada tanggal 22 Januari 2020; Fransesco Zaccaria, Participation and beliefs in Popular Religiosity: An-Empirical Studeis in Theology (London: Brill Publisher, 209), 63-64.

Oh Jakarta

sumber: google.com

Tepat tanggal 10 saya genap tinggal selama satu tahun di Jakarta. Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin saya melamar dan mengikuti ujian untuk bekerja di sini.

Sungguh, untuk tinggal di Jakarta, pada awalnya, bukan sesuatu yang saya inginkan. Saya punya keinginan untuk bekerja dan menetap di berbagai kota di Indonesia tapi bukan Jakarta. Jika memilih, saya ingin menetap sebagai dosen saja di Kupang, kota asal. Kendati demikian,  takdir ternyata berkata lain.

Tinggal di Jakarta, bagi kebanyakan orang adalah sebuah impian besar. Dalam pandangan saya,  fakta ini malah menujukan bahwa terus terjadi ketimpangan kota-desa yang hebat seperti Indonesia. Banyak masyarakat kita yang melihat bahwa beradu nasib di kota adalah cara untuk menemukan kebahagiaan dan pemanjaan fasilitas hidup yang tidak bisa mereka dapatkan di Desa/kampung. 

Bagi sebagian orang, ini adalah sebuah kewajaran karena kata mereka, “siapa yang tidak ingin hidup enak?” Di sisi lain, kerinduan yang begitu tinggi untuk hidup di Jakarta, bagi saya pribadi, adalah bukti hidup dan fakta paling kuat bahwa pemerataan kesejahteraan hidup di Indonesia masih jauh dari kata baik!

Sisi Buruk Jakarta

Tidak banyak hal unik yang bisa kita temukan di jakarta. Bagi saya, yang paling unik di Jakarta hanyalah dua hal; macet, dan banjir. Sejauh ini, dari segi banyaknya bangunan tinggi dan ketersediaan tempat hiburan seperti mall dan pusat perbelanjaan sejenisnya, Jakarta tidak ada bedanya dengan Surabaya dan beberapa kota besar lainnya. Bahkan LRT dan toko Buku Gramedia terbesar di Indonesia bukan terletak di Jakarta dan malahan ada di Kota Palembang. Sungguh, orang yang sudah selama atau lebih lama dari saya tinggal di Jakarta pasti akan mengatakan hal  yang sama yaitu macet dan banjir di Jakarta sangatlah parah.

Kemacetan di Jakara mengakibatkan polusi yang sangat tinggi. Tidak heran apabila tahun 2019 Washington Post meanugerahi Jakarta sebagai ibu kota sebagai udara paling tercemar di dunia. Saya memastikan bahwa polusi di Jakarta sungguh parah bukan kepalang. Banyak orang termasuk saya kesulitan bernapas saat bulan November-Desember kemarin. Dada saya terasa sesak saat bernapas seolah saya sedang menarik masuk gumpalan tepung ke dalam hidung saya.

Kemacetan Jakarta adalah dampak lebih jauh dari kepadatan penduduk (perantau) yang tidak normal. Akibat kehadiran para perantau-perantau (termasuk saya) ini, Jakarta sudah tidak mampu menampung (overload) manusia lagi. Saya akhirnya menjadi percaya pada Ahok bahwa perlu “membakar” setengah kota Jakarta baru kita bisa membuat kota ini menjadi lebih nyaman lagi. Dampak dari kepadatan penduduk mengakibatkan jumlah sampah di jalanan dan sungai yang tinggi. Dampak dari sampah yang banyak membuat datangnya bencana lain yang telah kita saksikan bersama pada awal tahun ini; banjir.

Di lain pihak, sebenarnya gedung-gedung besar di Jakarta tidak semempesona yang dulu saya atau orang-orang di luar Jakarta lihat di Televisi. Di kota segede ini, kita masih akan banyak menemukan tempat pemukiman kumuh dan jorok di Jakarta. Pergilah ke pinggiran-pinggiran sungai di Jakarta maka kamu akan menemukan sisi gelap di balik gemerlapnya kota ini. begitu banyak bangunan kumuh berhemparan di belakang gedung-gedung besar itu. Tak jarang, sungai-sungai kecil pecahan sungai Ciliwung di belakang gedung-gedung itu dijadikan kamar mandi dan toilet bahkan sumber air minum para kaum urban Jakarta.

Ya, di sini, di Jakarta, semua itu ada dan terpampang nyata di hadapan kita. Padahal yang tinggal dalam gedung-gedung besar itu adalah orang-orang yang mempunyai dana dan daya untuk mensejahterakan hidup para kaum urban yang datang mencari kelayakan hidup di ibu kota Indonesia. Seringkali saya bertanya, kemanakah hati nurani mereka semua? Ya, tak ada yang tau. Hanya Tuhan yang maha kuasa yang mengetahui itu semua kawan.

Sisi Baik Jakarta

Kendati demikian, Di Jakarta, kita tidak akan takut untuk tidak mendapatkan apapun. Hampir segala kebutuhan pokok manusia yakni pangan, sandang, papan, dan hiburan terbaik tersedia di sini. Tergantung selera saja kita mau yang mana. Di sini, kenikmatan hidup dijamin oleh banyak orang karena orang Jakarta selalu butuh produk-produk terbaru untuk menjamin agar kita selalu mendapatkan apapun yang kita mau.

Iklim kerja di Jakarta sungguh merubah diri saya. saya dituntut untuk bisa belajar menghargai waktu dan tentu saja uang. Jujur, sebelum di Jakarta, saya adalah orang yang boros dan tidak bijak dalam membagi waktu. Di ibu kota, kebiasaan seperti itu harus saya tinggalkan agar bisa hidup berkecukupan bagi pada segi waktu dan dana.

Orang-orang di Jakarta cenderung untuk bergerak cepat. Tidak boleh kerja terlalu lama karena akan banyak pekerjaan yang kita tinggalkan. Bijak membagi waktu menjadi tuntutan utama. Apabila kita tidak bekerja secara gesit, penilaian kita di hadapan banyak orang lain akan menjadi buruk dan akhirnya kita bisa kehilangan pekerjaan yang sudah kita miliki. Capek dan lelah menjadi harga atas tuntutan itu. Sampai saat ini saya masih mencoba membiasakan diri dengan sebuah hal positif ini.

Lebih lanjut, tidak seperti kata banyak orang bahwa di Jakarta semua orang menjadi egois dan antipati, kita masih banyak benih kebaikan di Jakarta. Di kota Jakarta ini saya selalu masih mendapatkan benih-benih kebaikan dari berbagai orang yang saya kenal dan bahkan tidak saya kenal. Sebuah bukti bahwa Tuhan masih datang menghampiri saya di bawah langit jingga kota Jakarta.

Purnawacana

Bagi saya, tidak hanya Jakarta, semua tempat di Indonesia baik untuk ditinggali. Hidup yang baik adalah hidup dengan terus menjadikan diri kita kebaikan bagi siapa saja yang ada di sekeliling kita dan kehidupan itu tidak ditentukan oleh seberapa besar kota yang kita tinggali. Di Jakarta pun kita tidak hanya bisa bersandar pada keinginan kita untuk bersenang-senang saja karena kota ini punya 1001 alasan untuk membuat kita terpuruk bahkan sampai pada tahap yang paling parah karena faktor iklim kota dan masyarakatnya.

Maka saya pribadi berpendapat bahwa sudahilah puji-pujian kita yang terlalu berlebihan pada kota Jakarta ini yang kemudian menjadi alat penghina kota-kota lainnya di Indonesia. Seringkali saya memberikan saran pada teman-teman saya yang begitu rindu untuk tinggal di Jakarta seperti saya agar mempertimbangkan kembali keinginan mereka untuk datang ke Jakarta. Alasannya sederhana, yaitu saya melihat bahwa mereka terlalu banyak memuji Jakarta tanpa tahu sisi gelap di balik itu. Kegelapan itu kemudian membuat mereka memandang rendah daerah mereka sendiri.

Tujuan tulisan saya ini sangat sederhana yaitu memberitahukan kepada banyak pembaca bahwa kota Jakarta hanya sebuah kota biasa. Kitalah yang membuat sebuah tempat tinggal itu nyaman untuk ditinggali. Kualitas sebuah kehidupan diukur oleh seberapa nyaman dan ramah masyarkat yang ada di sekeliling kota dan bagaimana kita bersikap terhadap hal itu.

Oleh karena itu, mulai saat ini. Bersikaplah biasa saja saat orang banyak menceritakan tentang Jakarta. Berbalik kepada mereka dan katakanlah dengan nada datar dan biasa saja, Oh Jakarta.