Belajar Dari Anak-anak (2)

Jesus Loves Children

Apabila kita diperhadapkan dengan sebuah pertanyaan yang berbunyi siapakah yang paling dapat dipercaya untuk memegang tanggung jawab yang besar, anak-anak atau orang dewasa? Mungkin sebagian besar akan menjawab, Orang dewasa. Kemudian bila orang bertanya lagi, siapakah yang mampu untuk bekerja 23 jam sehari? Anak-anak atau orang Dewasa. Saya berani bertaruh lagi-lagi jawabannaya, orang dewasa.

Berlanjut pada pertanyaan-pertanyaan dalam sudut pandang yang sama dan perihal berbagai aktifitas yang menuntut keseriusan serta waktu yang banyak. Saya meyakini kebanyakan jawaban akan tetap mengarah kepada orang dewasa. Tetapi jikalau kita bertanya, teladan apakah yang harus dipelajari orang dewasa dari anak-anak?  Atau ditambahkan, apakah orang tua lebih beriman dari anak-anak?   

Pertanyaan yang sama juga saya ajukan ketika membaca injil Matius 18 : 1-5tentang “Siapakah yang Terbesar di Kerajaan Sorga.” Apakah dengan demikian anak-anak lebih beriman dari murid-murid Yesus? Setidaknya sebelum melangkah lanjut pada pertanyaan yang susah itu, saya mengasumsikan bahwa tindakan Yesus tadi menisyaratkan bahwa orang dewasa tidak selalu menang dari anak-anak dalam semua hal. Bahkan Yesus sendiri menjadikan anak-anak contoh pada suatu kasus yang sangat serius, yaitu kepemilikan kerajaan sorga. Pertayaannya adalah Sampai disini penting bagi kita untuk bertanya mengapa Yesus memilih anak-anak sebagai subjek pemilik kerajaan Sorga Nya?

Dari nats pembacaan tadi, saya menemukan kesan bahwa nampak murid-murid Yesus sedang bertengkar hebat. Beberapa buku-buku tafsiran yang saya baca buka juga menandaskan asumsi yang sama. Teks ini bisa dikatakan cukup menarik sebab jika kita menelusuri teks-teks Alkitab, terutama yang berkaitan dengan pelayanan ke 12 murid Yesus, kita akan jarang menemukan pertengkaran yang terjadi di antara murid-murid Yesus, bahkan tidak ada. Pasal-pasal pada akitab lain kita hanya akan mencatat mengenai kisah pelayanan mereka bersama Yesus. Di samping itu, naskah matius 18: 1-5 dapat kita temukan tafsiran paralelnya pada dua injil lain yakni Markus 9: 33-37 dan Lukas 9:46-48. Artinya penulis kitab Matius dan Lukas melihat bahwa kisah Yesus dalam Markus, sebagai injil tertua,  tadi amatlah penting sehingga disalinlah teks tersebut.  

Menurut dugaan saya, perkelahian antara murid-murid Yesus terjadi para murid Yesus berebut kursi wakil ketua partai, dalam partai Yesus. Mereka saling menghina satu sama lain dan berdebat tentang siapa yang terbesar atau terhebat di antara mereka, sesuai klue yang kita dapatkan dalam judul perikop yang diberikan oleh LAI tersebut “siapakah yang terbesar di Kerajaan Sorga.” Oleh karena itu, Yesus kemudian menegur mereka dengan dibantu oleh seorang anak kecil. Alkitab tidak memberikan kita informasi lebih jauh tentang siapa nama anak tersebut umur, siapa bapak ibunya dan lain sebagainya. Tetapi kita bisa menemukan informasi bahwa dia seorang anak kecil.

Sebelum melangkah lebih jauh, baiknya kita membahas tentang apa itu anak-anak? Sejauh yang saya tahu, anak-anak adalah salah satu tahap pertumbuhan manusia. Tidak akan ada orang tua bila tidak ada anak-anak. Anak-anak dan orang tua sekurang-kurangnya memiliki  dua perbedaan mencolok. Perbedaanya adalah usia dan tingkat mental.

Manusia pada umumnya dikategorikan sebagai anak-anak ketika menginjak 12 tahun ke bawah. Mereka memiliki kepolosan dan sikap mudah dibimbing. Mereka belajar dengan cara mimesis atau meniru. Anak-anak belum memiliki ketajaman membedakan mana baik dan buruk. Sedangkan orang tua memiliki kemampuan kebalikan dari hal-hal tadi. Tetapi anak-anak konon mempunyai kemampuan menalar dan imajinasi yang melampaui kebanyakan manusia utama-utama pada umumnya.

Berangkat dari refleksi pengalaman saya mengajar anak-anak sebagai menjadi guru sekolah minggu selama 4 (empat) tahun di Gereja saya dulu. Bagi saya, ada 3 (tiga) hal penting tentang anak-anak yang dapat kita pelajari.

(1) Jujur.Anak-anak mudah untuk mengekspresikan perasaan mereka. Mereka tidak mempunyai kepentingan yang kompleks saat hendak berkata-kata dan menginginkan sesuatu. Berbeda dengan orang tua, orang tua lebih memikirkan yang terbaik bagi saya dan kepentingan saya, atau dengan kata lain ego-tinggi! Orang lain boleh jelek, tetapi tidak untuk saya (sang orang tua). Sikap untuk mengalah sangatlah kurang.

(2)Anak-anak mudah untuk memaafkan. Mereka menyayangi teman mereka. Ketika bertengkar, yang mereka ributkan adalah hal-hal yang bernilai bagi dunia mereka, seperti permainan, makanan, dan lain-lain. Sesuatu yang bagi orang tua tidak berharga namun sangat berharga untuk mereka. Tetapi anak-anak tidak akan marah untuk waktu yang lama, mereka cenderung cepat tertawa dan cepat melupakan kesalahan temannya. Oleh karena itu, dendam nampaknya menjadi ciri khas yang katanya “tua.”

(3) Rendah hati.  Ciri utama lainnya dari anak-anak adalah rendah hati. Sikap ini dapat kita lihat dari kepribadian anak-anak yang mudah bertanya dan mendengarkan. Anak-anak suka akan sesuatu yang baru, mereka cepat merasa heran. Mereka ingin hal-hal yang baru. Keinginan untuk mengetahui dan mendengarkan dari anak-ciri utama orang rendah hati. Orang rendah hati lambat untuk berbicara dan cepat untuk mendengar. Tentu dalam hal ini kita mengingat kembali pepatah tua nan sakti yang menyatakan “Tuhan menciptakan 2 kuping dan 1 mulut, agar orang lebih banyak mendengar ketimbang berbicara dan menilai sesuai tanpa mendengar lebih dahulu.” Inilah ciri khas dan kekuatan utama anak-anak bagi saya. Berbeda dengan orang-orang tua yang cepat tinggi hati, suka lebih banyak berbicara tetapi sulit mendengarkan. Maka jangan heran, kebayakan orang tua selalu lebih hebat dan suka mengatur anak-anak karena superioritas pengetahuan dan usia! Maka bagi saya tidaklah heran kebanyakan orang selalu mengatakan, lebih mudah mengatur anak-anak daripada mengatur orang tua!

Sampai disini, kita sudah mulai lebih melihat perbedaan mencolok antara anak-anak dan orang tua. Dan secara khusus anak-anak dan murid-murid Yesus. Argumen pertama yang harus kita percayai sebelum melangkah kepada kesimpulan-kesimpulan selanjutnya adalah “sangat mungkin bagi kita orang tua untuk belajar dari anak-anak.”

Menjadi orang tua atau mengalami pertambahan usia secara biologis yang signifikan tidak sama dengan menjadi dewasa dan beriman. Murid-murid Yesus adalah orang tua tetapi mereka tidak dewasa karena keegoisan serta sikap tinggi hati. Sikap-sikap tadi mengakibatkan mereka terjebak kepada sikap sombong dan hasrat untuk memuliakan diri. Dampaknya, mereka kemudian membuat Yesus marah dan menegur mereka melalui bantuan seorang anak kecil. Di satu sisi, saya berpendapat bahwa mereka sebenarnya sedang bersikap seperti kekanak-kanakan. Pada titik ini saya mulai mempercaya apa yang dikatakan oleh Dr.Reuss, seorang penulis dari Amerika Serikat. “Adults are just outdated children” (Dewasa hanyalah anak-anak yang usang).

Menurut pendapat saya, Yesus bukan menyuruh kita untuk menjadi anak kecil. Tidak mungkin ada orang yang bisa merubah dirinya menjadi kecil lagi terkecuali Conan dalam kartun Jepang (LOL). Tetapi yang disuruh adalah kita harus belajar bersikap dari mereka. Dunia anak-anak tidak sesederhana yang selalu kita pikirkan. Di sinilah inti dari beriman, yakni mendengar dan bersikap rendah hati. Iman haruslah tumbuh dewasa seperti anak-anak. Orang yang beriman tidak mudah terpengaruh pada berbagai hasutan, selalu memiliki sikap ingin belajar dan rendah hati. Bahkan inti dari beriman adalah rendah hati.

Dalam beriman, atau bahasa lainnya belajar menjadi seorang Kristen yang baik, kita dituntut untuk mencari tahu dan bergumul bersama Tuhan. Tuhan adalah sumber segalanya, kita manusia hanyalah makhluk fana yang merindu Tuhan. Sehingga tidak akan pernah ada orang yang melampaui Tuhan atau sejajar dengan Tuhan. kita hanya dapat datang mendekat dan mendapatkan belas kasih Tuhan, inilah prinsip anugrah, yaitu kita mendapatkan kasih Tuhan yang sebenarnya tidak pantas kita dapatkan. Maka konsekuensinya, kita manusia tidak akan pernah menjadi lebih hebat satu sama lain. Yang hebat hanyalah Tuhan, kita manusia hanya orang-orang yang membutuhkan Tuhan, maka mestilah kita bersikap rendah hati satu dengan yang lain, tidak menganggap diri kita lebih baik dari orang lain hanya karena perbedaan suku, kekayaan, selera hidup, dan alasan-alasan khas manusia lainnya. Bukankah Tuhan mengatakan bahwa kita semua “sama di mata Tuhan.”

Sikap dewasa seperti anak-anak inilah yang hilang dari murid Yesus, yang membuat mereka lalu ditegur oleh Tuhan Yesus. Banyak masalah terjadi diantara orang dewasa karena mereka tidak mau bersikap seperti anak kecil, bahkan wajah hubungan beragama kita belum dewasa secara iman. Banyak pemuka agama yang merasa berhak menindas agama lain atau sesama manusia dengan mengatasnamakan Tuhan. Padahal sikap mereka jauh dari apa yang Yesus ajarkan.

Melalui kisah murid-murid Yesus dan anak kecil. Kita dapat belajar untuk membuka diri kita dan saling berbenah diri. Kehidupan yang dijalani dengan kerendahan hati dan sikap menghormati akan selalu membawa kita dekat dengan kedamaian. Menginjak usia tua bukan berarti kita telah dewasa apalagi kita sudah dewasa secara iman. Kedewasaan tidak terbatas kepada umur tetapi kematangan bersikap kepada manusia dan Tuhan. tidak akan pernah ada orang tua yang berkembang secara iman apabila tidak menjadi anak-anak.

Untuk mencapai kematangan iman, anak-anak dapat menjadi salah satu sumber belajar. Yesus sendiri juga menghimbau kita untuk belajar dari anak-anak. Bukan tidak mungkin justru anak-anak yang selama ini kita pandang jauh lebih dari dari orang dewasa. Jauh lebih dewasa daripada kita. tentu dengan cara mereka sendiri yang sulit kita pahami. Bahkan bagi Yesus, merekalah yang empunya kerajaan sorga.

Selamat belajar dari anak-anak!

Advertisements

Mama

Mama

Tentang Mama

Mama (sebutan Ibu  untuk orang NTT secara umum) selalu menjadi sosok penting pada berbagai bidang kehidupan. Di Ekologi, Mama dimetaforakan sebagai Bumi itu sendiri.Bumi sebagai Mama, memberikan kehidupan bagi manusia dan segala ciptaan yang ada. Di hadapan sang Mama (Bumi), seluruh ciptakan diperlakukan secara adil, tidak ada satupun pihak yang didiskriminasi. Dalam berbagai kosmologi suku-suku, misalnya Timor di NTT dan Suku Papua, alam dipanggil sebagai “mama.”

Di dalam pemikiran salah satu tokoh terkemuka Teologi Kristen, John Calvin, Mama dimetaforakan sebagai Gereja. Gereja dipanggil untuk merangkul mereka yang tertindas dan memberikan kehangatan kasih selayaknya kasih seorang Mama. Metafora ini pernah dipakai oleh Gereja saya, Gereja Masehi Injili di Timor untuk memanggil pulang para jemaat GMIT diaspora diberbagai tempat untuk membangun GMIT. Bagi Calvin, Gereja mesti menerapkan kasih secara serius daripada berbicara tentang kasih melulu. Seperti seorang Mama, Gereja mesti menjadikan jemaatnya sebagai anak sendiri, tidak mendiskriminasi siapapun karena seluruh jemaat lahir dari rahim yang sama, yakni penebusan Kristus.

Di dalam berbagai bidang kehidupan, kita banyak mengetahui kata “Mama” selalu dikaitkan dengan berbagai hal yang bersifat melahirkan entitas baru. Kita mengenal kata “Mama kota” yang berarti kota tersebut dimandatkan sebagai kota utama, Mama kota lalu melahirkan berbagai kota-kota lain di negara, propinsi atau kabupaten bersangkutan. Ada juga sebutan Mama yang paling dekat dengan kita yakni Mama jari. Jari jempol, atau sang Mama jari menjadi penanda jari utama dalam segi per-jari-an (LOL) manusia. Dalam biologi Mama diganti dengan kata induk, ada induk ayam, sapi, kucing, aning (dan sayur kol) dan lain sebagainya. Intinya, Dari berbagai metafora mama seperti yang telah saya contohkan. Mama memang selalu dapat dimetaforakan pada berbagai kehidupan sebab sosok Mama sebagai sumber kehidupan selalu dapat menyentuh membran terdalam di hati umat manusia.

Tentang Mamaku

Saya mencoba menggambarkan sosok seorang Mama, tentu Mama saya tercinta Jeane Sartje Radja Pono yang tepat hari ini berusia 63 tahun :*, tentang arti seorang Mama. Terlepas dari berbagai metafora Mama yang saya gambarkan tadi. Mama yang saya coba gambarkan tidak berangkat dari refleksi akan film, buku, dan berbagai sumber yang telah saya muat dalam tulisan-tulisan saya yang lalu. Yang ingin saya gambarkan adalah Mama, sebagai Mama dalam hidup saya.

Mama saya, adalah wanita tercantik yang pernah ada, Ia ada dan mengadakan saya dan 4 saudara/i saya lainnya. Mama saya adalah sosok yang sangat sederhana dan bersahaja. Ia seorang yang amat cinta pada Agama Kristen, tentu ia juga seorang Kristen yang saleh, Kristen tersaleh yang pernah saya ketahui. Dari Mama saya, saya menemukan apa arti hidup mencintai Yesus dan melakukan nilai agama ketimbang mengulang-ngulangnya lewat tutur kata. Tentu saja, ia seorang yang tidak banyak berbicara, tapi sekali berbicara, kita akan segera melihatnya lewat tindakan yang ia lakukan.

Mama saya juga seorang Mama rumah tangga yang baik. Ia mampu memanajemen keuangan dengan begitu baik, maka dari itu saya masih bisa bernapas sampai sekarang karena kecerdasan ekonomi beliau. Mama saya juga seorang pemimpin yang baik. Mama saya pernah menjadi kepala sekolah di sekolah dasar almamater saya, SD Inpres Kobelete selama 2 periode (10 tahun). Selama kepemimpinan beliau, sekolah kami selalu meluluskan siswa/i-nya secara menyeluruh alias 100%, tidak ada siswa/i yang tertinggal di belakang. Dalam diri Mama sayalah saya melihat bahwa kita manusia dimungkinkan untuk memaksimalkan berbagai kecerdasan (multiple intelegency) dalam diri mausia. Tidak ada manusia yang hebat pada satu bidang saja.

Mama saya juga seorang penyanyi yang baik. Sewaktu saya mencoba mengikuti seleksi Voice Of Satya Wacana Christian University, kelompok paduan suara milik Kampus saya, saya meminta Mama saya mengajarkan cara membaca notasi dalam kidung pujian jemaat. Ia tentu mengajarkan saya dengan begitu sabar hingga saya mengerti dan mampu (walau sekarang sudah lupa hehe). Tentu saja, saya akhirnya bisa diterima dengan predikat baik.

Mama saya juga seorang yang pandai menulis. Konon menurut cerita keluarga besar Mama saya. Mama saya seorang yang suka membaca roman-roman (novel tahun 90an) dan pandai membuat puisi. Beberapa kisa cinta keluarga saya berhasil karena bantuan puisi-puisi tulisan tangan Mama saya. saya suka berkelakar dengan saudari-saudari saya bahwa mungkin saya mendapat warisan membuat tulisan dari Mama saya sedangkan sisa talenta Mama saya yang lain menjadi bagian mereka, hehehe.

Memetaforakan Mama (?)

Sejujurnya saya bingung metafora apalagi yang mesti saya buat untuk menggambarkan Mama saya, disamping tidak tahu bahasa apa yang mesti dipakai, saya juga tidak mampu merangkum luasnya diri dan kehidupan Mama saya. Mama saya adalah penyingkapan ilahi dari Kasi Kristus yang nyata dalam keluarga kami. Maka saya berpikir akan lebih adil, apabila saya tetap membiarkan Mama saya menjadi dirinya sendiri, agar kalimat-kalimat saya tidak mengurangi keagungan diri Mama saya.

Apa yang saya alami bersama Mama saya adalah proses kehidupan yang selalu menjadi. Sikap-sikap Mama saya tidak lahir dari ruang kosong, tentu Mama saya banyak berjumpa dengan kenyataan hidup yang membuat ia menjadi Mama yang saya kenal sekarang. Melalui kasihnya, Mama saya mendidika kami anak-anaknnya melalui berbagai talenta yang ia berikan. Tentu itu telah menjadi bagian dari kehidupan kami, dan membentuk cara saya dan saudara/i saya menjalani kehidupan.

Dalam menyambut ulang tahun Mama saya tepat hari ini, 7 januari 2019, kami mengucap syukur kepada Tuhan karena memberikan Mama seperti Mama saya kepada kami. Perjalanan kehidupan kami bersama beliau terus membuat kami mengenal dan menyambut keindahan hidup dalam ucapan syukur, penderitaanpun dalam kami lalui secara bersama. Dengan demikian, tentu jawaban atas sub metafora Mama saya ini, saya rangkum dalam satu jawaban. Tidak tahu! Biarlah kasih Kristus yang kami rasakan dari diri Mama saya terus mengalir, mengalir seperti kasih Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang terus tercurah dalam kehidupan kami semua (Bapa, Kety, Ay, Nune, Uan, dan Hari). Apa adanya, dan tetap begitu.

Selamat ulang tahun ke-63 Mama Jeane S. Radja Pono!

Jalan Hidup Himura Kenshin

            Hari ini, tidak seperti biasanya saya menghabiskan waktu menonton 3 film sekaligus yang berdurasi 2 jam per film. Padahal dalam keseharian, saya hanya menonton 1 film sehari, itu pun tidak rutin. Namun, film yang saya tonton yakni Rurouni Kenshin (kenshin sang Pengembara) membuat saya tahan duduk di depan laptop saya selama 6 jam! Oke, cukup kaget-kaget rianya, mari kita berlanjut ke hal yang lebih penting (LOL).

            Hal pertama yang membuat film ini menarik adalah film ini merupakan hasil produksi dari kartun berjudul Samurai X. Kensin tentu adalah karakter utamanya dan si samuari X tersebut. Dari setiap komik yang berada di Jepang, sangat sedikit komik yang diangkat ke film penokohan manusia. Artinya, komik Samurai X merupakan 20 komik terbaik di Jepang sehingga layak diangkat ke dunia nyata. Hal menarik yang kedua adalah alur cerita film ini, faktor ini berkaitan langsung dengan jalan hidup Himura Kenshin. Jalan menuju penjelasan faktor nomor dua akan saya jelaskan seusai memberikan sinopsis dari serial film ini.

            Himura Kenshin adalah seorang Samurai (agen) pembunuh pemerintah yang bekerja di bawah perintah Menteri Dalam Negeri Jepang di Era Perang Bakumatsu (era fiksi dalam film ini). Profesi agen pemerintah itu telah digeluti Kenshin sejak usia 14 tahun telah menjadi pembunuh berdarah dingin hingga usianya ke 19 tahun, ia memutuskan untuk pensiun dini. Alasan Kenshin berhenti adalah rasa penyelasannya yang begitu dalam atas tiap tindakan pembunuhannya yang merenggut banyak nyawa. Dari setiap tindakan pembunuhan Kenshin, ada suatu kisah pembunuhan yang paling membekas dalam benaknya, yakni kasuhs pembunuhan seorang prajurit muda Tokyo.

Suatu hari Kenshin diminta untuk membunuh calon panglima perang Tokyo yang bernitat melakukan Kudeta, salah daru dari pada panglima itu adalah seorang prajurit muda yang saya sebutkan di atas tadi. Pertempuran pun terjadi, Kenshin berhasul membunuh ke-5 calon panglima itu. Namun, Kenshin secara tidak sengaja mendapat goresan menyilang di bagian pipi kirinya oleh pedang prajurit tersebut. Ke esokannya harinya, saat mayat pemuda itu diangkat, Kenshin ikut datang dan melihat. Kedatangan Kenshin berpapasan dengan kedatangan calon istri sang calon panglima muda yang memberikan ia goresan di pipi. Kenshin menyaksikan tangisan pilu dari calon istri dari pemuda yang telah ia bunuh. Ingatan akan tangisan pilu itu terus mengejar Kenshin dan memberikan ia luka batin yang amat mendalam hingga membuat ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanya sebagai Samurai pembunuh pemerintah

Kisah Ini dimuat secara lengkap dalam serial pertama: Rurouni Kenshin. Cerita terus berlanjut, Kenshin beralih profesi menjadi seorang pengelana (Rurouni). Kenshin kemudian bertemu dengan seorang pelatih Samurai cantik bernama Kaoru. Dari sinilah arti kehidupan Kenshin perlahan-lahan berubah. Kaoru adalah seorang pelatih samurai yang hidup dalam prinsip yang jauh berbeda dari Kenshin yang lama. Ia (Kaoru) sejak kecil didik ayahnya untuk memegang teguh inti ilmu pedang, yaitu “pedang adalah alat untuk melindungi.” Terdengar sederhana namun filosofi Dojo (tempat latihan pedang di Jepang) sangatlah mendalam. Setelah mendengar nilai kehidupan yang dipegang Dojo Kaoru, Kenshin kemudian merasa bahwa prinsip itulah yang ia cari sebenarnya. Prinsip untuk menghangatkan darahnya yang selalu dingin karena ingin membunuh orang dengan pedang, digantikan nilai kepedulian untuk melindungi sesama seperti yang dianut oleh Kaura dan keluarganya.

Kenshin lalu ikut menajalani keseharian bersama Kaura di Dojo Keluarga Kaura. Tibalah suatu ketika di saat pendirian hidup baru yang dimiliki oleh Kenshi diuji. Kenshin mendapat kabar bahwa salah satu mantan hitokiri battousai (pembunuh berdarah dingin) lain selain Kenshin bernama Shishio Makoto bangkit dan ingin menguasai Jepang dengan jalan pembunuhan masal. Shishio, meski merupakan junior Kenshin, namun memiliki kemampuan yang sepadan dengan Kenshin. Tak heran, setelah ia lolos dari pembunuhan berencana yang dilakukan oleh pemerintah pada dirinya, Shishio berhasil menghuasai dunia bawah tanah Jepang. Shishio bersama anak buah yang berhasil ia rekrut lalu berencana untuk menghancurkan Tokyo guna menguasai dan menjadi penguasa tunggal atas Jepang. Cerita rencana dan eksekusi serangan Shishio secara lengkap ditayangkan dalam Rurouni Kenshin serial 2: Rurouni Kenshin Kyoto’s Inferno.

Setelah mengetahui bahwa Shishio masih hidup dan memiliki rencana untuk menyerang Tokyo. Menteri dalam negeri Jepang meminta Kenshin untuk membunuh Shishio. Mengetahui bahwa Kenshin diminta untuk membunuh Shishio, Kaoru dengan tegas meminta Kenshin untuk menolak permintaan pemerintah, selain karena ia melihat keteguhan hati kenshin untuk berubah, Kaoru menolak pembunuhan terhadapt sesama manusia. Kenshin lalu mengalami dilema antar harus menyelamatkan Jepang dengan cara membunuh ataukah terus menahan dan mengubur insting pembunuh dalam dirinya seperti yhang disarankan oleh Kaoru.

Setelah melakukan pertimbangan yang mendalam, Kenshin akhirnya menerima tawaran pemerintah. Dengan sangat menyesal ia mengucapkan salam perpisahan kepada Kaoru, gadis yang memberikan ia arah baru dalam hidup yang nantinya akan menjadi pendamping hidup Kenshin. Kenshin kemudian melakukan  perjalanan ke Kyoto, lokasi perang pertama yang akan mereka lakukan, untuk menghabisi Shishio di markasnya. Sesampainya di sana, Kenshin terkejut karena sebelum perang akan dimulai, Kaoru bersama Adiknya mengikuti Kenshin ke Kyoto. Kenshin meminta mereka untuk tidak ikut berperang namun Kaoru tidak mengindahkannya.

Peperangan pun dimulai, Kenshin dan rekan-rekannya berhasil menguasai arena. Tetapi seusai perang berakhir, Kenshin dan rekan-rekannya dikejutkan dengan fakta bahwa perang Kyoto hanyalah tipuan, musuh sebenarnya mengincari Tokyo. Saat mereka ingin menghentikan pergerakan Shishio di atas kapal besarnya yang sedang menuju ke Tokyo . Kaoru diculik oleh Shiro, salah satu komandan Shishio. Kenshin pun mengejarnya dan berhasil naik ke atas kapal Shishio. Salah satu agen Shishio mengikat tangan Kaoru dan mengancam untuk mendorong Kaoru ke laut. Drama teriak-teriak singkat antar Kenshin pun terjadi. Sesuai dugaan Kaoru ditolak dan dijatuhkan ke laut, setelah Kaoru meminum air laut, Kenshin pun, tentu saja, ikut melompat ke laut. Mereka akhirnya dibawa bersama oleh arus laut namun terdampat di pantai yang berbeda. Kejadian terdamparnya Kenshin merupakan awal dari serial akhir film ini yakni Rurouni Kenshin: The Legend Ends.

Kenshin yang sedang terdampar di sebuah pantai tak bernama, dipertemukan dengan mantan gurunya, Aima. Kenshin kemudian meminta bimbingan gurunya agar bisa mengalahkan Shishio. Rasa kegagalan karena tidak bisa menyelamatkan Kaoru menjadi salah satu faktor tindakan Kenshin tadi. Guru-nya pun menerima permintaan Kenshin.

Ditengah-tengah momen latihan, gurunya melihat gaya bertarung Kenshin mengalami perubahan. Ia tidak lagi bertarung dengan penuh gairah seorang samurai. Guru-nya kemudian mencoba menyelidiki masa lalu Kenshin meski ia tahu bahwa Kenshin adalah seorang mantan Bathhosai. Kenshin lalu menceritakan masa lalunya dan tentu kisah dibalik tanda X di pipinya. Guru Kenshin meminta Kenshin merenungkan tindakannya dan memberikan penjelasan pada dirinya sendiri mengapa ia menjadi lebih lemah dalam berpedang.

Ke-esokan paginya, gurunya meminta Kenshin menjelaskan perubahan sikapnya namun Kenshin tidak bisa menjawab. Guru Kenshin lantas marah kepada Kenshin, melemparkan pedang kesayangan gurunya dan meminta Kenshin bertarung secara serius. Tentu saja, Kenshin tidak bisa mengimbangi kemampuan pedang gurunya, bahkan Kenshin beberapa kali hampir kehilangan kepalanya. Di saat tempo pertarungan mulai mereda karena gurunya kasihan melihat Kenshin (mungkin), ia menjelaskan penilaianya terhadap perubahan Kenshin. Bagi Gurunya, Kenshin mengalami kebimbangan karena kehilangan arah hidup (bagian ini saya berikan tandan miring karena arah hidup dalam film ini amat khas filsafat timur!). Kenshin terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk menutupi dan menghapus ingatan masa lalunya yang amat gelap! Setiap tangisan keluarga korban yang ia bunuh selalu menghantui dirinya. Fenomena itu membuat Kenshin tersesat dalam masa lalunya dan gagal menikmati kehidupan sekarang, saat ini!

Kegagalan menjalani arah hidup inilah yang akhirnya membuat Kenshin gagal menjalani hidupnya, sampai-sampai ia tidak menghargai kehidupannya sama sekali. Ketakutan akan masa lalu atau lebih tepatnya “trauma” Kenshin membuat ia selalu takut bahkan menghindari pertarungan agar insting membunuh dalam dirinya tidak berbalik menguasai dirinya. Insting yang selama ini membentuk dirinya menjadi pembunuh berdarah dingin. Bisa dikatakan Kenshin kehilangan semangatnya untuk menjadi seorang pendekar pedang.

Setelah memberikan penjelasan akan kehilangan arahnya Kenshin. Kenshin akhirnya sadar arti penting bagi dirinya sebagai seoang Samurai. Yakni memakai hidupnya untuk kehidupan. Kehidupan yang dimaksud di sini adalah kehidupan nyata yang ada di depan Kenshin, kehidupan yang ia jalani, bukan kehidupan masa lalu atau masa depan Kenshin. Semua itu hanyalah ilusi belaka! Hanya bayangan yang tercipta dari hantaman dunia dalam pikiran yang sejujurnya tidak nyata! Gurunya meminta Kenshin untuk melihat dirinya apa-adanya. Menghargai diri sendiri adalah kunci bagi Kenshin untuk bisa “hidup” kembali. Bangkit dai kematian dirinya yang terlalu hidup di masa lalu! Kenshin diminta, untuk menghargai setiap kehidupan, termasuk hidupnya sekalipun ia adalah seorang mantan batthosai!

Perjumpaan bersama gurunya memberikan pencerahan bagi Kenshin. Ia mendapat arah hidupnya sendiri! menjadikan Kenshin  orang yang lebih menghargai kehidupan. Lalu apa hubungan dengan jalan Samurai yang ditekuni Kenshin? Jalan Samurai adalah jalan perlindungan, seni bertahan! Pedang adalah alat untuk membantu orang terus hidup seperti layaknya nasi, roti, motor yang digunakan orang untuk terus hidup. Tidak lebih dan tidak kurang, sederhana! Samuari adalah jalan hidup Kenshin, ia menjadi Samurai untuk menolong orang yang tertindas, membela dan membantu dirinya selamat dari orang-orang jahat. Kenshin dituntut untuk kembali ke jalan samurai yang sebenarnya agar ia berdamai dengan dirinya sendiri, mulai menghargai diri dan menjadikan hidupnya berharga bagi dirinya dan orang lain. Tetapi tugas Samurai juga menyelamatkan kehidupan orang lain, menyelamatkan dari apa? Menyelematkan orang lain dari nafsu bertarung yang sesat! Seperti nafsu membunuh tanpa ampun yang dipunai Kenshin lama.

Motivasi untuk bertahan dan menyelamatkan menjadi warna bertatung baru yang dimiliki oleh Kenshin! Ia bertarung untuk melindungi Kauro, teman-temannya dan Jepang dari ancaman jahat Shishio. Perubahan Kenshin nampak nyata dalam gaya bertarungnya melawan Shishio dan anak buahnya. Ia merubah arah hidup musuhnya. Sebagai contoh, Kenshin berhasil merubah arah bertatung Aoda, salah seorang musuh agen pemerintah yang bertarung dengan Kenshin untuk mendapatkan popularitas. Kenshin lalu mematahkan semangat itu! Kenshin memberikan wejangan bahwa popularitas membutakan mata batin orang sehingga menghalalkan segala cara termasukg cara yang jahat untuk terkenal. Kenshin mematahkan semangat Shiro yang melihat pertarungan sebagai ajang unjuk kemampuan. Samurai bagi Shiro adalah persoalan menang-kalah, kuat-lemah. Kenshin menegur Shiro dengan mengatakan “menang kalah bukan tujuan utama pertarungan, setiap orang pasti akan pernah kalah dan menang sebab begitulah manusia. Inti dari pertarungan adalah saling mengoreksi satu sama lain untuk memastikan diri kita sudah bisa berguna bagi orang lain (Saya kira Prabowo calon Presiden Indonesia mesti belajar arti bertarung dari Kenshin (LOL)).

Tentu, Kenshin tidak lagi membunuh musuhnya lagi. Ia lebih menikmati pertarungan yang ia lakukan. Ia fokus untuk melakukan karya penyelamatan bagi musuh-musuhnya yang bertarung dengan mengadalkan nafsu kejahatan ketimbang kebaikan. Dan tentu saja, Kenshin memenangkan pertarungan. Ia mengubah perang menjadi perdamaian. Ia menerangi hati para musuh-musuhnya. Lebih indah lagi, Kenshin mengubah perspektif pemerintah yang selama ini melihat Samurai sebagai “alat” pemerintah menjadi berubah. Kenshin membuat pemerintah sadar bahwa Samurai adalah jalan penyelamatan dan perdamaian. Pemerintah tidak bisa hanya menciptakan mesin pembunuh dan kemudian mencuci tangan, seperti yang dilakukan pemerintah terhadap Kenshin dan Shisio. Pemerintah juga tanpa terkecuali adalah pelaku atas peperangan tersebut! jalan hidup Kenshin membuat mereka semua sadar dan saling berintrospeksi diri. Jalan hidup Kenshin yang seperti apa? Jalan hidup yang menghargai kehidupan, diri sendiri, dan melihat hidup apa-adanya!

Tanggapan

Tentu saya percaya bahwa banyak dari kita, termasuk saya, yang pernah atau tengah berada dalam posisi Kenshin. Kita gagal melihat kehidupan sekarang dan menikmati keindahan yang ditawarkan karena tersesat dalam masa lalu kita yang kelam, dan masa depan kita yang begitu menakutkan. Akhirnya kita gagal menghargai kehidupan di sekililing kita, bahkan gagal menghargai diri sendiri. Saya berharap, jalan hidup Kenshin dapat menjadi semacam pencerahan bagi kita saat ini. Tentu bagi para pembaca yang telah mengenal jalan hidup pembebasan a la Zen akan melihat warna Zen Budhis dalam diri Kenshin. Tentu saja Kenshin banyak menjalani pencerahan budi a la Zen karena latar belakang budaya dalam kosmologi Jepang dimana Kenshin dididik.

Tentu pembebasan Zen (lihat dalam berbagai tulisan-tentang tentang Zen dari Reza Wattimena dalam rumahfilsafat.com) memberikan arah baru dalam kehidupan Kenshin. Saya kira jalan zen juga dapat menjadi jalan keluar bagi kita saat ini yang masih terlalu banyak bermain dengan masa lalu dan masa depan kita. Saya tentu tidak meremehkan memori manusia dan menolak  hidup yang terencana, tidak! Tapi kita mesti percaya bahwa kehidupan yang nyata itu benar-benar ada. Kehidupan tersebut mesti kita rangkul dan jalani. menjanali kehidupan yang termaksud adalah menikmat dan menerima setiap kenyataan hidup apa adanya. Menghindari kita menjalani hidup dengan berdiam dalam ilusi masa lalu dan masa depan yang kita rangkai sendiri. Kita mesti membuka mata hati dan indrawi kita secara bersamaan, melihat dunia dan menerima segala keberadaannya tanpa dibumbui oleh ideologi kaku dalam pikiran kita. biarkan dunia itu datang dan kita bermain dengan dunia itu apa adanya.

Pola menerima kehidupan semacam ini akan membantu kita untuk menghargai apa yang ada, dunia seada-adanya. Kita akan melihat bahwa hidup itu luas dan tidak bisa kita bahasakan secara pasti! Tidak ada yang mutlak sama di dunia, setiap langkah kita selalu baru setiap saat. Konsekuensinya adalah kita tidak bisa memastikan sesuatu dan memberikan penilaian yang konstan sebab penilaian kita pun akan berubah. Kita belajar untuk menikmati cahaya matahari di pagi hari, menikmati senyum di wajah orang-orang sekliling kita, dan berbagai keindahan lainnya. Yang kadang-kadang luput dari perhatian kita karena ilusi dalam pikiran kita. Tentu dengan demikian jalan apa-adanya akan menjadi lebih terbuka dan kelihatan urgensitasnya. Yakni kita akan selalu belajar hal baru, dan belajar bagaimana melihat segala sesuatu secara istimewa. Itulah jalan hidup yang mesti, bagi saya, kita miliki untuk merobah diri kita seperti jalan Hidup Himuran Kenshin

Selamat menjalani kehidupan!

Manusia, Hip-Hop, dan Allah

republica.com

Kasus Eminem

Ide untuk membuat tulisan ini lahir seusai saya menonton film dokumenter Eminem, salah satu rapper (sebutan umum untuk penyanyi RAP) termasyhur dunia saat ini, berjudul 8 Mile. Seperti film dokumenter pada umumnya, film tersebut menceritakan tentang bagaimana kisah hidup Eminem sehingga dia bisa menjadi seorang raper. Lantas apa yang membuat ceritanya menjadi menarik?

Pertama-tama, tatar belakang lokasi film tersebut terjadi di Kota Detroit, salah satu kota  dengan populasi orang berkulit hitam (Afrika) terbanyak di Amerika. Eminem lahir dan besar di kota itu. Di Detroit, Rap menjadi salah satu musik paling populer yang konon merupakan bagian dari kebudayaan orang Afrika. Rap pada dasarnya adalah sebuah seni “berbicara” cepat. Orang kulit hitam memiliki tradisi “oral” dan semuanya disampaikan dengan berbicara cepat. Tetapi rap bukan saja sekedar bicara, namun seni mengolah makna hidup (pantun) menjadi sajak bernada.

Orang-orang kulit hitam Detroit tentu saja menjadikan rap seolah-olah sebagai seni hidup mereka. Tidak ada tempat dalam rap untuk orang kulit putih.  Para Afrikan-American Detroit menceritakan kisah hidup mereka, tekanan pekerjaan, beratnya biaya hidup melalui rap. Tentu seusai rap mereka mendapatkan kelegaan. Anak-anak muda Detroit membawa budaya tersebut ke club-club malam. Di sanalah Eminem memulai jalan karir rap-nya.

B Rabbit, begitu panggilan Eminem sebelum ia menjadi terkenal (konon Eminem kecil memiliki telinga panjang dan gigi sedikit maju a la kelinci), didesak teman-temannya untuk tampil di salah satu Club malam di jalan 8 mile. Teman-teman Eminnem, sebut saja J, B, D, dan C melihat bahwa Rabbit memiliki talenta rapping. Namun, karena tekanan dominasi kulit hitam atas kebudayaan kulit putih, Eminem enggan untuk tampil di panggung. Dari sini saya belajar  bahwa dominasi bisa lahir selagi kita memiliki posisi dan kuasa.

Singkat Cerita, suatu kali Rabbit memutuskan untuk tampil melawan Papa Doc, rapper terbaik di Detroit, dan tentu saja Eminem mengalahkan Papa Doc hanya dalam 1 babak. Menarik juga untuk di angkat, seluruh rapper Detroit pada saat itu berkulit hitam dan Eminem menjadi rapper kulit putih pertama di kota itu. Tentu saja, para sahabat Eminem adalah orang-orang kulit hitam yang sudah memiliki kesadaran “kemanusiaan” yang tinggi dan menaruh rasa hormat yang besar pada Eminem, atau paling tidak pada bakatnnya, membangun persahabatan atas rasa cinta sebagai “sahabat.” Persahabatan memang selalu menyentuh rasa kemanusiaan terdalam dan melampaui ideologi yang merendahkan martabat manusia.

Seusai menonton film Eminem dan menyaksikan penderitaan yang mesti ia lalui, saya kemudian bertanya Apakah Allah pun juga seorang hip-hopers?

Allah Dalam Musik Hip-Hop

Daniel White Hodge, profesor Misiologi di North Park University, adalah salah satu teolog yang banyak melakukan penelitian mendalam tentang keterkaitan antara hip-hop dalam dunia teologi. Dalam salah satu tulisannya “Beyond Western Approaches to Missions Postindustrial Missions & The Missiology within Hip Hop Culture”, Hodge menafsirkan bahwa hip-hop merupakan kebudayaan yang akan mempengaruhi misiologi di abad 21 (Daniel White Hodge, Beyond Western Approaches to Missions Postindustrial Missions & The Missiology within Hip Hop Culture, 2013: 25). Memang, jika kita melihat dari populasi anak muda yang cukup mencintai hip-hop saat ini, saya kira analisa Hodge ada benarnya. Lantas apa yang membuat Hodge menjadi begitu yakin perihal klaim yang ia buat?

Hodge meyakini fakta tersebut melalui analisanya terhadap 2 hip-hopers dunia yakni Lauran Hill dan Tupac Sacur. Lauran Hill adalah salah satu raper perempuan yang terkenal dengan pandangannya tentang “jarak bagi diri.” Dalam salah satu albumnya yang paling terkenal, The Miseducation of Lauryn Hill, Hill memandang hip-hop sebagai sebuah ruang untuk mereka yang berjuang dengan relasi, cinta, iman dan kehidupan (Daniel White Hodge, Beyond Western.., 2013: 19). Dalam dunia barat yang cenderung individualis, hip-hop memberikan ruang untuk kebebasan berekspresi. Hip-hop dalam amatan Hill lebih banyak bercerita tentang pergumulan orang dalam kehidupan. Hip-hop selalu lahir dalam konteks tertentu. Dalam hip-hop orang menceritakan keadaan yang jarang diperhatikan orang lain, tentu akibat tekanan dari pihak-pihak dominan yang bisa datang darimana saja. Lewat hip-hop orang melihat “ruang” bagi dirinya dengan persoalan hidup mereka sendiri dan menceritakan itu pada orang lain.

Yang menarik di situ, bagi Hill, ruang itu juga menjadi pertemuan orang dengan Allah (Daniel White Hodge, Beyond Western.., 2013: 20). Allah hadir keheningan hati orang-orang yang kesepian. Allah datang dan menyentuh orang tersebut, memampukannya untuk menata kata, arti, hingga menjadi sebuah lantunan nada yang indah. Tentu di sini kita merasakan aroma asli dari kebudayaan hip-hop yakni seni berpantun. Namun Hill melihat lebih jauh bahwa dalam hip-hop kita mendengar juga pesan-pesan pembebasan dari jiwa-jiwa yang mencoba mencari jalan keluar. Misiolog Dunia,  David Bosch menyebut hip-hop sebagai “God Talk in an age of Reason (Daniel White Hodge, Beyond Western.., 2013: 20). Pernyataan-pertanyaan tersebut membuat hip-hop bisa lahir dalam bentuk dan makna yang amat kaya. Hill menjadikan hip-hop sebagai media eksistensi diri. hip-hop menjamin tidak ada orang yang sendirian. Setidaknya dalam hip-hop yang ia sebut sebagai ruang, orang dapat berjumpa dengan Allah. Dalam Hip-Hop orang mampu melihat “Sapaan” Allah lewat kekuatan pesan dari lirik yang dirangkai.  

Tokoh hip-hop kedua yang diangkat Hodge adalah Tupac Shacur. Para hip-hopers memberi julukan pada Tupac sebagai “Saint Tupac”, Tupac sang kudus. Hodge berkomentar bahwa keunggulan Tupac adalah bagaimana Tupac memberikan kekuatan pesan yang diangkat Tupac atas konteks (tantangan) yang sedang ia hadapi (Daniel White Hodge, Beyond Western.., 2013: 22). Berbeda dengan Hill yang melihat hip-hop sebagai seni mengeluarkan isi hati. Tupac menjadi hip-hop sebagai sarana advokasi. Hodge menulis, “for Tupac, the goal was to create a contextualized way in a world that was forgotten (part of the post soul deconstruction process) (Daniel White Hodge, Beyond Western.., 2013: 25).

Lebih jauh Tupac melihat kedalam dunia yang terperangai oleh penindasan pada orang kulit hitam saat itu. Bagi Tupac hip-hop “is the heart of dialogue and the very place God is experienced. In fact, almost anyone who has experienced deep loss and pain in which God’s hand felt far can relate (Daniel White Hodge, Beyond Western.., 2013: 25). Hodge menkategorikan Tupac sebagai seorang Kristen yang berani. Keberanian tersebut dilahirkan Tupac lewat pengalaman hidup otentik. Tupac bukan seorang teolog atau orang yang pernah mengeyam pendidikan di seminari-seminari teologi. tapi ia paham bagaimana Allah berkarya untuk membebaskan manusia dari penindasan. Satu-satunya saranan belajar bagi Tupac adalah para pendeta. Tupac memandang bahwa para pendeta cenderung abai terhadap persoalan nyata yang terjadi. Mereka (para pendeta) berbicara tanpa mengalami penderitaan yang terjadi dalam masyarakat, bahkan jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

Tupac lantas memakai hip-hop sebagai sarana “khotbahnya.” Dari sanalah orang-orang memberikan ia panggilan Saint Tupac (Michael Ralph, Saint Tupac (Transforming Anthropology, Vol. 25, Number 2, 2017: 3). Ia tidak sekedar berbicara namun menyampaikan kabar baik bagi kaumnya yang tertindas. Hodge menulis Tupac was helping to create that pathway for liberation and pointing to God; a position we as missiologists cannot ignore (Daniel White Hodge, Beyond Western.., 2013: 26). Apa yang membuat Tupac berbeda ialah ia menjadikan hip-hop sebagai alternatif (alternative way) pembebasan masyarakat, pesan alkitab menjadi lebih bertenaga dan berdampak bagi kaumnya. Alkitab menjadi buku yang hidup karena pesan-pesan alkitab dihidupkan lewat apa yang Tupac sampaikan (Daniel White Hodge, Beyond Western.., 2013: 28).

Pada bagian akhir tulisannya, Hodge menarik kesimpulan bahwa “God is at work in Hip Hop and even if the appearance of it is offsetting, God is still doing a great work within the culture, music, artists, and youth who listen to its messages (Daniel White Hodge, Beyond Western.., 2013: 30). Allah bersemayam dalam musik rap, dalam lirik-lirik mereka yang tertindas dan dilupakan oleh orang banyak. Rap menutut orang-orang percaya dan siapapun yang mesti peduli terhadap realitas konkrit manusia. Dalam rap, ada keberlanjutan hidup yang diciptakan Allah. Allah berbicara bersama mereka yang tertindas dan bekerja bagi kebaikan hidup manusia.

Dengarkanlah

Saya kira anggapan Hodge tidak terlalu berlebihan. Mungkin karena didorong pengalaman saya dalam dunia hip-hop, kebanyakan anak muda sekarang menyukai dunia hip-hop yang menyediakan kebebasan berekspresi. Tidak ada aturan yang mengikat dalam hip-hop. Syaratnya hanya satu, berbicaralah. Sampaikan semua jeritan hati semampunya. Semakin lirik yang kita sampaikan benar menjadi pergumulan pribadi kita, sejatinya hip-hop sudah menjadi milik kita. Di dunia sekarang yang penuh dengan individualitas dan tekanan kehidupan yang amat kompleks. Saya  pikir hip-hop menjadi alternatif yang baik bagi mereka yang kesepian dan dilupakan oleh masyarakat.

Lebih jauh, sebagai seoang mantan mahasiswa teologi yang hanya belajar secuil tentang teologi. Saya sepakat bahwa Allah ada dan berdiam dalam hati setiap orang. Allah ikut bersuara lewat setiap lirik yang menkritik ketidakadilan yang sedang diceritakan oleh sang penyanyi.  Allah hadir bersama mereka yang kesepian, dalam ruang hati mereka. Diam dan teduh. Allah juga ada bersama kelompok yang termarjinalkan. Mendekap jiwa-jiwa yang kesepian. Allah memulai karyanya dari pinggiran karena Allah juga berdiam dalam kesepian.

Allah pun juga ikut bernyanyi bersama mereka yang tertindas. Allah bernyanyi bersama mereka yang tertindas karena ketidakadilan politik, tertindas karena perbedaan warna kulit, gaya rambut, kemewahan, dan berbagai hal-hal sepele yang kira hiraukan. Terkadang Allah berbisik pada kita lewat suara-suara kecil yang luput dari perhatian kita. berseru lewat teguran, suara minta tolong pada kita.

Suara Allah syahdu dan nyata. Lahir dari konteks kehidupan dan refleksi batin yang dalam. Suara tersebut memaksa kita untuk melihat kembali ke dalam pesan yang dibangun lewat nada yang inda dan aneh. Sebab suara tersebut jarang kita dengarkan dan luput dari perhatian kita, sebagai akibat dari kebutaan mata batin kita yang ditutupi oleh gemuruh keramaian.

Dengarkanlah hip-hop itu, dengarkanlah suara Allah dalam alunan nada mereka.

Daftar Pustaka

Daniel White Hodge, Beyond Western Approaches to Missions Postindustrial Missions & The Missiology within Hip Hop Culture (USA: Association of Professors in Mission, 2013).

Michael Ralph, Saint Tupac (Transforming Anthropology, Vol. 25, Number 2, 2017)

Agar Natal Tetap Menjadi Natal

Yang Hilang (Bagi Saya) di Saat Natal

Natal telah tiba, libur telah tiba, kue-kue natal mulai bertebaran di rumah-rumah. Begitulah natal dirayakan dari tahun ke tahun. Kita bisa melihat bagaimana penampilan Gereja berubah drastis, berbagai ornamen natal mulai dari pohon natal dan hiasan-hiasan lainnya dipasang dengan begitu megahnya. Bahkan, berbagai pusat perbelanjaan tidak mau kalah megahnya dibanding Gereja, yang lebih menarik kehadiran Sinter Claus (Santa Claus, dan seterusnya) dipajang demi menarik perhatian para pengunjung (meski Santa Claus tidak identik dengan kebudayaan masyarakat Indonesia yang tidak memiliki musim salju seperti negara lainnya).

Lalu, Apakah natal mesti selalu menjadi momen yang sama tiap tahunnya? Lantas apa yang membuat natal itu menjadi berbeda?

Secara sederhana, Natal selalu direfleksikan sebagai kedatangan sang penebus, Yesus Kristus, yang datang menebus dosa manusia. Berbagai khotbah tentang agenda penebusan tersebut selalu digemakan di berbagai Gereja. Meski, kadang apa yang dikhotbahkan cenderung sama. Yesus lahir, menebus dosa manusia dan berakhir. Terkadang juga kisah Maria, Orang Majus dan Para Gembala dijadikan topik yang juga di ulang-lang. Sayangnya, saya cenderung melihat kehadiran Yusuf, ayah Yesus, jarang sekali dibahas. Padahal posisi Yusuf yang mau ikut menerima Maria apa-adanya, menerima Maria yang mengandung bayi Yesus yang bukan dari hasil perkawinan mereka berdua juga pun penting untuk dikaji lebih jauh. Sebab bagi saya, figur Yusuf yang menerima Maria apa adanya bisa menjadi narasi perlawanan terhadap pola kebudayaan “partirarkal” yang terlalu menempatkan laki-laki sebagai figur utama dalam kehidupan keluarga dan masyarakat luas.

Natal juga selalu disambut dengan berbagai perabotan megah, seperti yang telah saya singgung diparagraf pertama. Padahal, kekuatan utama natal ada pada “kesederhanaan”. Orang terlalu banyak mengulang kabar penebusan Yesus dan lupa melihat “kesederhanaan” Yesus. Padahal Yesus Yesus yang adalah Allah, Tuhan, dan juga seorang Raja yang bersedia ke dunia dalam rupa manusia dan tidak muncul dalam kemegahan, Ia justru merendahkan dirinya ke dunia yang fana ini, mengambil kefanaan itu menjadi bagian dari diri-Nya. Bayangkan apabila seorang Raja, atau Presiden datang ke tempat anda, hadir tanpa bala kerajaan atau PASPAMPRES yang ditugaskan untuk mendorong-dorong anda untuk jauh dari Presiden/Raja tersebut. Yesus tidak datang dalam kemegahan, tapi justru dalam kesederhanaan. Yesus datang dan bersatu dengan dunia dengan segala ke-ada-annya. Tentu kita juga mesti datang menyambut Yesus dengan apa-adanya kita. Kesalahan utama orang yang menyambut natal adalah terlalu mempermegah diri dengan hiasan baru, model rumah-baru, dan berbagai ornamen yang justru memberatkan dari segi ekonomi. Bukankah tekanan akibat kemegahan natal yang justru memberatkan manusia tidak diinginkan Yesus? Dengan kata lain esederhanaan adalah ciri Natal itu sendiri.  

Menghindari Tindakan Fotokopi

Fotokopi adalah istilah yang saya pinjam dari artikel “fotokopi” , yang ditulis John C. Nelson dan dapat kita baca dalam website resmi Gereja Masehi Injili di Timor (https://sinodegmit.or.id/fotokopi/). Artikel tersebut sangatlah sederhana namun amat tajam dan mendalam. Lewat artikel tersebut, Pak Nelson menegur para pelayan Gereja yang cenderung melayani tanpa gairah dan semangat karena berhadapan dengan tugas pelayanan yang sama. Seperti natal tadi, pelayanan natal dilihat sebagai sekedar agenda tahunan dan akhirnya membuat natal menjadi tidak relevan dengan konteks persoalan yang tengah terjadi. Lebih lanjut, para pelayan Gereja gagal untuk menjawab persoalan masyarakat melalui “pesan” natal karena bersikap abai terhadap tantangan yang ada di depan mata.

Sebagai contoh, setiap perayaan natal saya selalu mendengar para pendeta sering berceramah Yesus datang menebus dosa manusia. Natal adalah simbol perdamaian manusia dan Tuhan. Tentu pesan tersebut adalah ya dan Amien. Tetapi jika Yesus “telah” menebus kita, sekarang bagaimana natal itu relevan dengan keadaan manusia masa kini. Bagaimana natal bisa menjadi perdamaian agama di Indonesia yang kompleks, natal menjadi aktifitas perdamaian bagi saudara-saudari kita yang mengalami bencana di Palu-Donggala, Lombok, dan Banten saat ini. Paling tidak natal mesti menjadi momen perdamaian bagi jemaat yang jemaat yang memupnyai pergumulan di Gereja yang bersangkutan. Terkadang para pelayan cenderung mengulang hal yang sama, dan gagal memaknainya bagi keadaan sekarang, inilah yang dimaksud sebagai fotokopi. Menyamakan suatu keadaan yang tidak murni sama. Mengulang kembali penyampaian dan tindakan yang sebelumnya dilakukan. Warna jemaat akhirnya dibuat sama, dan tidak ada yang berbeda.

Tentu saya tidak menyamakan semua peran pelayan jemaat dan perayaan natal. Tentu ada juga yang berhasil melukis keindahan natal sesuai dengan konteks yang terjadi. Tetapi sayangnya keberhasilan untuk melukis ulang natal itu tidak sering terjadi. Saya beranggapan bahwa proses fotokopi itu terjadi, paling tidak saat natal, karena sikap abai para pelayan pada persoalan nyata dan kecenderungan untuk melihat sensasi suatu momen kerohanian ketimbang makna terdalam dari pesan tersebut. Kita bisa melihat itu lewat perayaan natal yang selalu sama tiap tahunnya, kemegahan natal lebih menarik dari pesan natal itu sendiri, yakni kesederhanaan.

Agar natal tidak membosankan, dan saya menjadi terlalu banyak menkritik ketimbang memberi usulan. Saya lebih menyarankan agar natal akan menjadi lebih bermakna apabila kedamaian itu dihadirkan bersama dengan mereka yang sedang mengalami penderitaan, dan kehilangan kesempatan untuk menikmat kedamaian natal karena persoalan yang sedang mereka alami. Gereja-gereja mestinya hadir merayakan natal bersama mereka yang sedang “terluka” oleh penderitaan hidup. Menarik keluar jemaat ke lokasi pelayanan. Memberikan bantuan langsung berupa berbagai pemberian yang sedapat mungkin bisa diberikan oleh Gereja.

Natal akan menjadi tidak membosankan saat pesan natal itu tidak selalu sama, terkadang “tema” natal berbeda tapi penyampaiannya tetap sama. Agar natal itu tidak lagi membosankan, kembangkanlah tema itu menjadi lebih kontekstual dan pendekatan penafsiran yang lebih mendalam. Bagaimana tema natal itu bisa menjadi pesan perdamaian bagi mereka yang sedang berada dalam konflik, natal menjadi jawaban bagi para korban perdagangan orang, natal menjadi sumber kekuatan bagi mereka yang sedang ditimpa bencana alam. Bukankah Yesus pun datang untuk membawa kedamaian bagi manusia dalam beragam persoalan yang ada di dunia?

Semua itu mesti kita lakukan, tentu saja, agar natal tidak berakhir sebagai ritual tahunan. Kedatangan Yesus tidak hanya sekedar menjadi penanda akhir tahun telah tiba, natal tidak sekedar menjadi penanda toples-toples kue harus segera dikeluarkan dari lemari kaca. Natal harus dibuat indah sesuai pesan yang ingin dihadirkan oleh Yesus bagi umatnya di segala waktu dan tempat. Ecclesia semper reformanda est, gereja selalu mesti diubah sesuai konteks yang sedang berubah dimana Gereja itu hadir.

Selamat Natal untuk kita semua. Tuhan Yesus memberkati kita.

Mengurai Alasan-Alasan Mengapa Banyak Buruh Migran Asal Nusa Tenggara Timur Menjadi Korban Human Trafficking

sumber. voxntt.com

Saya sejujurnya tidak begitu mengikuti isu human trafficking (HT) yang terjadi di daerah saya sendiri, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan saya sangat menyesali itu. Saya tahu menahu soal isu itu tetapi tidak menjadi perhatian serius secara pribadi. Tapi saat saya mendengar bahwa jumlah korban HT di penghujung tahun ini sudah mencapai jumlah 100 orang, hati saya tersayat. Saya sejenak bertanya dalam hati, bagaimana mungkin jumlah korban bisa sebanyak itu? Apakah yang selama ini dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak yang selama ini menangani kasus ini ? Sehingga akhirnya 100 orang warga pergi dengan nyawa di badan, kini berpulang dalam  kondisi mayat!

Artikel saya ini lahir dari duka yang mendalam atas kejadian ini. Para buruh migran (BM) asal NTT yang dipulangkan itu bukanlah robot buatan manusia, mereka adalah ciptaan Tuhan yang mulia. Manusia dengan darah (blood) dan daging (flesh) seperti kita semua. Mereka memiliki keluarga yang begitu mencintai mereka, yang kini harus ditinggalkan karena keengganan pemerintah dalam mengurus kasus ini. Para 100 korban HT pada tahun ini dan tahun-sebelumnya tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Nama mereka mesti terus dikenang sebagai pengingat dan pendorong perjuangan kemanusiaan di NTT dan Indonesia.

Demi mewujudkan hal itu, melalui berbagai sumber yang saya ikuti yang membahas persoalan ini, saya mencoba membagi alasan-alasan penyebab terjadinya persoalan HT menjadi, agar sekiranya kita semua mau membuka mata dan melawan (HT) yang sedang menimpa NTT saat ini,

1. Kekerasan Kultural Dalam Dikotomi Desa-Kota

Pokok ini jelas menjadi faktor yang tidak bisa dipungkiri. Jurang kesenjangan ekonomi antara masyarakat desa dan kota di NTT begitu lebar. Dari sini kita akan meneropong mengapa mayoritas buruh migran yang kemudian menjadi korban HT datang adalah mereka yang berasal dari Desa. Di NTT, satu-satunya daerah kota yang memang unggul secara prasarana di NTT adalah kota kupang. Kualitas rumah sakit, pendidikan dan berbagai jenis pelayanan masyarakat yang terkemuka ada di sana. Maka warga Desa menjadi sasaran empuk HT karena mereka diiming-imingi kehidupan yang enak dan searah dengan pola masyarakat kota, melalui kesempatan “hijrah” ke kota (di luar negeri). Kenikmatan yang selama ini ada di Kupang bisa mereka dapatkan, Bahkan! Dengan ketersediaan fasilitas yang lebih mewah dibanding apa yang ada di Kupang. Ketimpangan ekonomi dan fasilitas hidup antara Desa dan Kota menjadi alasan mengapa orang rela menjadi buruh migran. Keadaan ini membuat para warga Desa merasa bahagia karena bisa tinggal di tempat dimana akses kehidupan bisa didapatkan secara lebih mudah.

Sebetulnya, daerah pedesaan pun juga punya pola kehidupan tersendiri yang cukup untuk membuat mereka bertahan hidup. Hidup dalam artian ini perlu dilihat dalam bingkai yang sederhana. Kehidupan apa-adanya dan tidak mengintimkan diri dengan gaya hedonisme yang ada di Kota. Di Desa-Desa tersebut, Tuhan telah menanugrahkan hasil alam yang cukup melimpah. Berbagai hasil bumi seperti pisang, umbi-umbian, buah-buahan dan sayur-mayur cukup melimpah. Tapi, keadaan tersebut tidak membuat masyarkat Desa merasa cukup puas dengan keadaan mereka.

Ketidakmerataan pembangunan menjadi sumber masalah lain dari ketidakpuasan masyarakat untuk terus menetap di Desa. Arus globalisasi yang menciptakan kemajuan teknologi dan gaya hidup hedonis ditampilkan dengan begitu gagahnya oleh masyarakat kota. Akhirnya lahirlah dikotomi hidup warga desa dan Kota. Warga Desa berlomba-lomba untuk meniru gaya hidup masyarakat Kota, di sisi lain warga Kota merasa bahwa mereka memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan nikmat dibanding warga Desa. Faktor ini menyebkan apa yang disebut Johan Galtung sebagai “kekerasan kultural.” Dimana salah satu ciri yang terjadi adalah muncul kata-kata hinaan yang menjadi senjata utama kekerasan verbal masyarakat kota terhadap budaya kehidupan di Desa seperti kata “kampong” (kampungan).  Diksi kampong mengandaikan masyarakat Desa sebagai orang-orang yang lambat dalam mengikuti perkembangan hidup dan berada dalam “zona” berkekurangan. Istilah kampong serentak menjadi semacam beban psikologis bagi masyarakat Desa untuk terus bertahan dan menikmati kehidupan di Desa. Kelambanan pemerataan pembangunan di Desa yang memperpanjang umur kekerasan kampong ini. Membuat masyarakat Desa merantau untuk memperbaiki kehidupan mereka.

Diksi kampong  yang tentu saja lahir dari kekerasan kultural semacam ini, ktia ketahui bersama adalah imbas dari globalisasi dan pola hidup hedonis. Orang-orang Desa sebagai pihak yang tidak berada dalam lingkaran “kepemilikan” gaya hidup a la Kota lantas mesti menerima akibat dari kekerasan ini. Para BMI dalam artian ini, adalah mereka yang sedang berusaha untuk tidak lagi menjadi pihak yang ditindas oleh dominasi gaya hidup kota.


Kekerasan kultural memaksa warga Desa untuk bekerja ekstra agar bisa merasakan gaya kehidupan masyarakat Kota. Jalan Buruh Migran menjadi salah satu jalan yang mereka tempuh agar bisa memperbaiki keadaan mereka dan orang-orang di sekeliling mereka. Kebanyakan dari mereka pergi untuk bisa mendapat uang, untuk dipakai dalam rangka memperbaiki keadaan hidup “serba kurang” atau kampong keluarga yang mereka tinggalkan di Desa. Para BMI sering mengirimkan uang agar keluarga mereka di Kampung bisa memenuhi kebutuhan hidup dan sekali-kali jalan-jalan ke Kota untuk menikmati fasilitas yang tidak bisa mereka dapatkan di Desa.

Dalam hemat saya, dikotomi Desa-Kota menjadi salah satu tantangan terberat dalam proses penuntasa HT. Faktor ini menjadi amat pelik karena pola kehidupan Desa-Kota telah dibentuk dalam dikotomi ekonomi pasar. Selain itu ketidakadilan pembangunan yang terlalu bercorak “kotasentris” mesti segera di redam. Tentu saya tidak sedang menjadikan “infrastuktur” sebagai tolak ukur kenikmatan hidup. Namun pola penyediaan insfrastuktur seperti rumah sakit, pusat perbelanjaan yang mudah dijangkau juga penting bagi pembangunan kehidupan masyarakat Desa. Pembahasan lebih lanjut tentang arti pola kehidupan masyarakat teritorial yakni Desa-Kota penting untuk dilakukan., agar orang bisa tetap percaya diri hidup di daerah dimana dia ada. Agar kekerasan kultural Desa-Kota yang sejatinya bertumpu pada pola hidup “hedon” yang tercipta akibat arus ekonomi global, tidak mebuat masyarakat Desa merasa ditindas karena dinilai tidak bisa menikmati hidup apabila berada di Desa!

2. Rendahnya Kulitas Pendidikan

Persoalan pemerataan infrastuktur juga hadir sebagai topik penting dalam dunia pendidikan NTT. Fasilitas dan sarana pendidikan yang minim membuat banyak warga Desa harus mampu berpuas diri dengan pendidikan seadanya. Mereka di satu sisi juga tidak mampu untuk ikut menikmati pendidikan di Kota yang mahal, belum lagi biaya hidup di Kota. Akhirnya mereka tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Faktor ini juga berimbas kepada jumlah masyarakat Desa yang putus sekolah.  

Faktor penting lainnya, kesediaan tenaga guru dan semangat bersekolah para siswa/i. Banyak sekolah-sekolah di NTT yang masih kekurangan tenaga pengajar. Hal ini juga menjadi tantangan serius bagi sekolah-sekolah Gereja Masehi Injili di Timor. Banyak orang tidak mau menjadi guru di Desa karena gaji kecil dan tidak ada tunjangan. Masalah lain yang mesti menjadi perhatian adalah menumbuhkembangkan semangat belajar murid-murid di Desa. Masih sedikit anak-anak di Desa yang melihat betapa pentingnya pendidikan. Hal ini terjadi karena tuntutan kerja di desa yang banyak sehingga mereka cenderung terlalu lelah di rumah. Maka anak-anak di Desa tidak punya tenaga lagi untuk bersekolah. Anak-anak mesti bangun pagi, pergi mengambil air, memasak nasi, mencari kayu api dan seribu satu pekerjaan lainnya. Akhirnya mereka tidak punya waktu untuk mengulang lagi pelajaran di Sekolah. Pekerjaan-pekerjaan rumah pun jarang dikerjakan bahkan terkadang dianggap “momok” karena menambah daftar pekerjaan rumah mereka.

Perosalan berikut yang penting juga dibahas adalah sistem pendidikan. Saya rasa metode menghafal sangat tidak relevan bagi dunia pendidikan kita, apalagi untuk masyarakat di Pedesaan. Masyarakat Desa dan terkhususnya anak-anak tidak bisa lagi dianggap pintar apabila mereka mampu menghafal seluruh isi buku. Bagi saya ini semacam model penjajahan dalam dunia pendidikan. Di satu sisi pola pendidikan semacam ini mengizinkan guru untuk bertindak menjadi hakim yang tidak adil dengan menentukan si anak pintar atau bodoh dengan cara memadankan celotehan sang murid dengan isi buku. Padahal belum tentu sang guru menghafal seisi buku yang ia pakai untuk mengajar.

Bagi saya model pendidikan menghafal yang diterapkan tidak efisien dan tidak adil untuk masyarakat daerah NTT. Di NTT, keadaan masyarakat memaksa untuk selalu bekerja keras, pola hidup instan terjadi di segala tempat. Keadaan ini menjadikan sekolah bukanlah pilihan utama untuk menciptakan keadaan yang lebih baik. Sekolah mesti diubah menjadi tempat yang menyenangkan bagi masyarakat Desa, terkhususnya anak-anak di Desa agar mereka terhindar dari kasus HT di masa depan. Model pendidikan di pedesaan mesti dibuat lebih cair dan dekat dengan alam. Saat menyentuh bagian ini, saya membayangkan untuk menerapkan pendidikan seperti “Jungle School.” Sekolah seperti ini sudah banyak di Indonesia, NTT pun juga bisa! Ditambah lagi, lokasi pedesaan masih sangat ekologis. Maka tentu pembelajaran berbasis lingkungan akan sangat membantu anak-anak di Desa untuk mendapatkan sarana pendidikan dan bermain sambil belajar. 

Faktor keterbatasan model dan sarana-prasana pendidikan mengakibatkan banyak warga Desa tidak bisa mengenyam pendidikan sampai pada jenjang yang tinggi. Mereka harus berpuas diri dengan fasilitas apa-adanya. Akhirnya, warga Desa tidak banyak mendapatkan asupan ilmu yang cukup untuk membuat mereka siap menghadapi tantangan dunia pekerjaan dan kehidupan yang begitu kompleks. Para warga Desa akhirnya harus mampu mencari pekerjaan yang dapat menerima kekurangan pendidikan mereka. Dalam hal ini, pekerjaan Buruh Migran menjadi “pelarian” dan “kesempatan emas” bagi orang-orang yang putus sekolah karena tidak bisa mendapatkan tipe pekerjaan sesuai harapan mereka. Pekerjaan sebagai Buruh Migran memungkinkan mereka untuk tetap dapat bertahan hidup dan menghidupi orang-orang di sekeliling mereka, dengan mengandalkan pendidikan hidup yang mereka dapatkan di Desa.

3. Paham “Manusia Pekerja” Warisan Kolonial

Penjelasan pada bagian ini lahir dari pencerahan yang saya dapatkan lewat tulisan “Pendidikan Salah Kaprah” (Reza Wattimena, rumahfilsafat.com). Pada artikel tersebut, Reza menilai model pendidikan kita masih sangat kolonialis. Tipe pendidikan ini, lebih menekankan kepada kemampuan skill bekerja daripada pemaksimalan daya nalar.

Model pendidikan tersebut adalah ciri pendidikan abad 19 . Pendidikan lebih berorientasi untuk menhasilkan pekerja daripada pemikir. Belanda sebagai negara yang menjajah dan mendirikan sekolah bejalan dalam model pendidikan produksi semacam itu. Sebagai negara penjajah, Belanda lebih mengutamakan peningkatan keterampilan kerja masyarakat Indonesia. Tentu alasan utamanya adalah demi peningkatan produksi bahan-bahan alam dan kepentingan produksi Belanda lainnya. Karena dijajah cukup lama, masyarakat Indonesia perlahan-lahan lebih mementingkan hasil kerja tangan daripada kerja otak. Ini adalah tujuan utama pendidikan kolonial. Tentu model seperti ini bertentangan dengan nilai pendidikan sebenarnya yakni memerdekakan manusia, menurut Paulo Freire, dari kebodohan agar manusia mampu mencapai optimalisasi diri dan lingkungan secara utuh dan independen.

Di masa sekarang, kita bisa melihat pola kualitas kerja menjadi tolak ukur utama dalam dunia masyarakat. Kerja dinilai sebagai tujuan akhir dari ziarah pendidikan. Orang yang tidak bekerja seusai bersekolah akan dianggap salah arah. Selain itu, kerja tangan menjadi ukuran dari kualitas kemanusiaan. Masyarakat NTT secara umum baik di Kota dan di Desa, bagi saya bergerak dalam model semacam ini. Orang-orang yang tadinya putus sekolah akan sangat merasa malu kalau tidak bekerja. Tentu di Desa, pekerjaan selalu ada. Tetapi terkadang mereka merasa bosan dan ingin pendapatan yang tinggi. Tetapi karena keterbatasan pendidikan, mereka kembali kepada model purba dalam dunia kehidupan yaitu kerja fisik. Para buruh migran dapat cukup merasa bangga apabila sudah bisa bekerja, di luar negeri pula, dan tidak malu lagi atas keterbatasan pendidikan yang mereka punyai. Buruh migran dianggap sebagai pekerjaan yang bisa menangkat martabat sosial karena kita berada dalam lingkaran masyarakat yang melihat kerja dan produktifitas kerja sebagai tujuan hidup.

Sayangnya, produktifitas kerja kita lebih berorientasi pada uang atau gaji. Orang boleh kerja pada tempat yang bagus, tetapi gaji menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang. Seorang yang berpendidikan tinggi akan kalah dengan mereka yang berpendidikan rendah tapi memiliki gaji tinggi. Akhirnya orang yang berpendidikan tinggi tetapi berpenghasilan sedikit tidak akan ada artinya di tengah-tengah masyarakat.

Para buruh migran kemudian memilih untuk bisa bekerja sebagai Tenaga Kerja di luar negeri demi tujuan ini. Kerja dan bergaji tinggi, meski minim pengetahuan. Akibatnya berbagai resiko seperti dipukul, dan disiksa dianggap sebagai resiko kerja yang harus dilampaui. Mereka juga (menurut saya) lebih memilih disiksa dari pada hidup menanggung malu menjadi pengangguran tak berpendidikan. Bagi saya, ini adalah konsekuensi dari model pendidikan “kuli” yang telah menjadi semacam penilaian umum di masyarakat NTT, dan tentu di seluruh Indonesia.

Bagi saya, model kerja dengan mengutamakan gaji dan sikap “yang penting kerja” mesti kita ubah. Bekerja adalah buah dari pendidikan, dan pendidikan tidak melulu soal keterampilan tetapi memerdekakan manusia dari belenggu penderitaan hidup yang datang dari penilaian sempit atas realitas kehidupan. Apa gunanya kita bisa bekerja dan mendapatkan gaji tinggi tetapi kita mesti meletakan martabat diri kita di bawa kaki Bos atau Majikan untuk diinjak-injak? Bagian ini saya akhiri sampai di sini saja.

4. Bergerak Meninggalkan Alam

Dari segi kebudayaan, masyarakat NTT memiliki ikatan yang kuat dengan alam. Pandangan ini telah menjadi warisan kebudayaan yang masih ada sampai saat ini. Dalam kosmologi orang Meto sendiri misalnya, orang Meto percaya bahwa mereka adalah suku yang “merekah” dari tanah. Matahari juga adalah sang pencipta yang menjadi sumber kehidupan. Singkat cerita, alam menjadi sumber kehidupan. Masyarakat hidup dari dan bersama alam sebab manusia adalah bagian tidak terpisahkan dari alam itu sendiri. Secara lebih mendalam, alam juga menjadi tempat manusia melepas lelah dari kepenatan hidup. Bersama alam, manusia mengupayakan keseimbangan hidup demi kelestarian manusia dan alam. Tetapi setelah tambang-tambang menyerang dan virtualisasi digalakan, kebijaksanaan itu perlahan ditinggalkan dan para calo perdagangan orang mendapat lahan basah untuk kelancaran bisnis mereka. Pokok virtualisasi dan tambang akan saya jelaskan lebih rinci satu per satu.

Pertama adalah virtualisasi. Virtualisasi secara khusus melanda anak-anak dan remaja. Sewaktu saya kecil, kami sering bermain ke hutan, seperti Bolang dan Dora, untuk berpetualang menikmati indahnya alam, alam adalah sumber kebahagiaan. Kami banyak menciptakan permainan dari bahan baku alam seperti ayunan dari rotan, bermain di pohon, berenang ke sungai dan lain sebagainya. Semua itu begitu indah pada masa kami. Alam menjadi tempat yang begitu menasyikan.

Tetapi sesudah teknologi menyerang, filosofi alam itu pun mulai pudar. Kenikmatan masa kecil seperti yang saya ceritakan tadi pun sirna sudah. Anak-anak masa sekarang menjadi begitu kecanduan akan teknologi  virtual dan perlahan bergerak meninggalkan alam. Apa yang ditampilkan di layar kaca televisi dan handphone menjadi lebih menarik daripada yang diciptakan Tuhan di depan mata (alam).  Faktor ini menjadi penting untuk ditelusuri karena banyak remaja Desa di NTT yang rela bekerja di kebun Sawit hanya untuk bisa membeli handphone dan menikmati tawaran-tawaran dunia virtual seperti apa yang dimiliki oleh anak-anak di Kota besar. Sewaktu saya berpraktek di daerah Amarasi Timur, banyak remaja-remaja yang harus pergi meninggalkan kampung demi mengejar kesetaraan hidup layaknya anak-anak kota karena teknologi ini. Alam tak lagi asyik karena yang virtual lebih menarik.

Kedua, persoalan tambang liar. Kasus tambang liar yang berujung pada penrusakan alam menjadi salah satu persoalan yang paling pelik di NTT saat ini. Akibat dari kemunculan tambang-tambang liar yang mengambil hasil alam NTT, masyarakat Desa menjadi kehilangan kesempatan bekerja padahal mereka mesti mempertahankan hidup mereka masing-masing. Mau tida mau warga desa mencari pekerjaan di luar daerah mereka. Kesempatan ini dipergunakan dengan baik oleh para calo HT. Mungkin akan ada yang bertanya bukankah tambang menjadi lahan pekerjaan? Jawabannya tentu saja tidak. Pihak tambang tentu tidak mau merekrut warga Desa. Kalau ada yang direkrut, mereka hanyalah orang-orang yang berpendidikan dan sebagian kecil dijadikan buruh kasar. Akibat rendahnya tingkat pendidikan sesuai point yang saya jelaskan sebelumnya. warga Desa tidak bisa bekerja di tambang. Mereka terpaksa merantau keluar Desa, dan sala satu cara merantau itu adala dengan menjadi Buruh Migran Indonesia (BMI).

Alasan berikutnya, alam adalah sumber kehidupan utama masyarkat agaria dan peternak-peternak di NTT. Masyarakat NTT secara turun-turun temurun selalu menjaga alam karena ada ikatan batin yang terkandung dalam nilai budaya. Para pemilik tambang menggunakan otoritas negara untuk membungkam narasi kebudayaan yang menjadi alasan utama para warga Desa untuk tidak mengizinkan pendirian pabrik tambang. Kehadiran pabrik pertambangan memaksa warga Desa untuk hidup terlepas dari alam, memunahkan warisan kebudayaan yang bersifat melindungi alam. Ekosistem kehidupan dirusak, hutan-hutan digundulkan demi membuka lahan pabrik. Karena sudah tidak memiliki tempat untuk bertahan hidup, banyak masyarakat Desa yang mencari pekerjaan di luar daerah mereka, di Kota besar dan luar negeri, seperti yang dilakukan oleh para Buruh Migran asal NTT.

5. Aktifitas Para Double Agent

Double agent adala sebutan umum yang dipakai dalam dunia agen, untuk menugaskan para mata-mata yang melaksanakan penyusupan. Bagi saya, karya para agen gelap atau calo yang menjadi broker buruh migran melaksanakan tugas yang kurang lebih sama. Para tim promosi dan pencari buruh migran yang dijadikan sebagai korban HT adalah orang-orang NTT itu sendiri. Mereka adalah para orang-orang tidak bertanggungjawab, yang bisa datang dari baik gereja, pemerintah, dan instansi manapun, yang memainka peran ganda sebagai penjual manusia. Bahkan yang lebih mirisnya, para double agent ini merupakan keluarga dekat dari para korban HT!

Para double agent, bukanlah orang asing. Mereka datang dari NTT, mengenal penderitaan masyarakat NTT tetapi berbalik menjadi musuh dan menusuk dari belakang. Karena tahu kerumitan kehidupan orang NTT, mereka datang sebagai juruselamat palsu! Menawarkan jalan keluar atas persoalan yang terjadi. Mereka tahu betapa pedihnya dunia pendidikan di NTT, tahu bagaimana kemiskinan, serta budaya kerja yang ada, tapi dengan cara biadab mereka justru memanfaatkan itu untuk kepentingan ekonomi para broker (Bos Usaha Perdagangan Orang).

Double agent menjadi lebih leluasa karena terdapat sebuah budaya “mencari” kerja di NTT yang dikenal dengan istilah orang dalam.” Namun, para double agent itu sendiri berbeda dengan orang dalam. Orang dalam adalah mereka yang membantu untuk sekali proses saja karena sesuah berhasil direkrut orang yang dibantu bisa menjadi kader orang dalam berikutnya. Sedangkan double agent bersifat permanen, sang orang yang dibantu justru tidak disangka-sangka menjadi korban, nasibnya jauh berbeda apabila dibandingkan dengan tipe orang dalam. Double agent murni adalah “maluk rakus” bertopeng masyrakat. Mereka adalah serigala berbulu domba dalam dunia sebenarnya. Berperan sebagai penolong dalam berbagai rupa, tetapi yang diincar hanyalah keuntungan ekonomi.

Hal ini perlu diperhatikan secara seksama karena “budaya orang dalam” masih mengakar kuat dalam tradisi masyarakat kita di NTT. Dan sejujurnya di seluruh Indonesia! Dalam istilah lebih baku hal ini merupakan tipe nepotisme. Sayangnya, para korban adalah mereka yang benar-benar berada dalam poisis marginal, mereka bisa saja tahu bahwa sang agen menipu. Isu kematian para BMI bukan hal baru, tetapi karena kehilangan harapan akan keadaan ekonomi yang pelik. Para Buruh migran mencoba melampaui keadaan dengan bergantung pada sang double agent. Menerima tawaran jalan tol yang berujung maut.

Dalam hemat saya, para double agent inilah yang menjadi pemicu terbesar perdagangan gelap ini. Ke-5 alasan yang saya uraikan ini tidak akan begitu berfungsi bila tidak ada para pekerja lapangan ini. Tentu mereka dibayar dengan biaya yang cukup besar untuk pekerjaan jahat ini. Oleh karena itu para double agent bisa lolos dan kebal hukum karena permainan uang yang cukup besar. Mereka tidak transparan, tetapi lihai bermain dari meja ke meja. Seperti para double agent di film-film (LOL). Mereka bisa datang darimana saja dan menjadi siapa saja. Saya percaya bahwa apabila hukum ditegakan, para pemain dibalik layar ini mestilah bisa diusut satu demi satu, secara hukum ini merupakan kejahatan terstruktur an terencana. Hukuman yang diberikan mestilah berat.

Tentu cara melawan para double agent ini adalah dengan cara mereka sendiri, yakni menyebarkan cara yang benar dalam melakukan imigrasi. Agar jalan-jalan mereka menuju kesuksesan menjadi tertutup. Tetapi, para double agent akan dan sebetulnya telah unggul satu langkah karena mereka memiliki akses untuk melakukan kejahatan HT. Oleh karena itu, untuk melawan double agent, setidakanya pihak yang memperjuangkan isu ini telah memiliki kepastian pendidikan dan lapangan pekerjaan. Para double agent tidak bisa diperangi oleh pemerintah yang lemah dan suka obral janji. PPHP atau pemerintah pemberi harapan palsu, hanya akan memperlebar kesempatan para double agent untuk melakukan kejahatan dan meyakinan para calon korban untuk mengikuti jalan tol yang disediakan oleh sang double agent.

Catatan Penutup

Kasus HT lahir dari tawaran Buruh Migran. Saya di sini tidak begitu mau menyalahkan adanya pekerjaan Buruh MIgran. Tetapi motif bekerja sebagai Buruh Migran lahir dari berbagai persoalan yang ada di NTT; ketimpangan sosial-ekonomi, minimnya sarana dan prasana pendidikan yang memadai, etos kerja akibat pendidikan yang salah kaprah, aktifitas gelap para agen jahat, dan melemahnya nilai kebudayaan di NTT. Para Buruh Migran adalah tanda dari kegagalan pemerintah menyejahterakan masyarakat.

Fenomena buruh migran kemudian menjadi lahan basah bagi para pedagang manusia (double agent), yang kita kenal sebagai perdagangan orang di NTT. NTT kini hadir sebagai propinsi dengan kasus HT terbanyak di Indonesia. Berbagai istilah untuk menggambarkan fenomena ini pun lahir, seperti “nusa peti mati” dan ” tahun panen mayat”. Istilah-istilah itu menggambarkan pahitnya realitas buruh migran yang terjadi di NTT. Saya mengharapkan agar peran dari masyarakat juga ikut serta dalam melawan kasus ini, karena fenomena perdagangan orang lahir dari kegagalan masyarakat untuk hidup besolider guna menopang persoalan hidup satu sama lain.

Masalah-masalah Human Trafficking tidak datang begitu saja, masalah ini adalah bentuk dari kegagalan negara, gereja, berbagai instansi agama dan swasta di NTT. Sikap bercermin diri oleh para pihak tersebut menjadi bagian penting saat ini. Tidak hanya berhenti sampai di situ, keberagaman alasan terjadinya HT bagi saya saling berkaitan satu sama lain. Tidak ada masalah yang berdiri sendiri, oleh karena itu pola penangannya juga tentu bersifat holistik demi menyelamatkan kehidupan masyarakat NTT. Bersatu melawan dan menuntaskan HT.

*Sumber-sumber

Uraian singkat ini merupakan bentuk refleksi dan kompilasi dari beberapa buku dan artikel tentang HT; Menolak Diam (BPK Gunung Mulia, 2018) karya bernas dari GMIT dan Asosiai Teolog Indonesia, Gereja Melawan Human Trafficking (Gereja Kristen Pasundan, 2017) sebuah buku bersama Gereja Kristen Pasundan bersama GMIT, Gereja Sebagai Communion yang Bertanggungjawab (Jurnal Pax Humana, 2017) Jear Nenohai, berbagai tulisan di Website Sinode GMIT, dan artikel-artikel di media masa NTT seperti Pos Kupang, Timor Expres dan Viktory News, serta beberapa artikel lainnya yang ditulis oleh orang NTT yang tersebar di berbagai media masa. Sumber-sumber tersebut saya sertakan agar pembaca yang budiman bisa mendapatkan informasi secara lebih lengkap dan utuh, beserta berbagai jalan keluar yang ditawarkan terhadap persoalan Human Trafficking di Nusa Tenggara Timur.

Kita Mesti Bersahabat: Menerangi Sisi Gelap Dalam Relasi Para Pemburu Beasiswa di Indonesia

sumber: scholarship.com

Mengapa Orang-orang Berburu Beasiswa?

Pengalaman belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare, mengantarkan saya untuk bertemu dengan banyak pemburu beasiswa studi lanjut, baik pada Universitas di dalam dan luar negeri. Topik beasiswa selalu menjadi pembahasan yang akan selalu kita jumpai di Pare, di tempat itu, Sebagai pusat studi bahasa Inggris terkemuka di Indonesia, lembaga-lembaga kursus di Pare juga menyediakan info tentang beasiswa yang disediakan oleh baik sekolah dalam dan luar negeri. Maka tentu saja, info-info tambahan tentang beasiswa studi lanjut semakin deras mengalir bagi para pemburu beasiswa.

Para pemburu beasiswa yang saya temui, memiliki cita-cita yang begitu mulia untuk Indonesia. Mereka bukan hanya orang-orang yang hebat pada bidang ilmunya masing-masing tapi juga telah lama bergumul dengan persoalan Indonesia yang  telah menjadi fokus hidup mereka seperti bencana alam, kemiskinan, ketidakadilan hukum dan seterunya. Para pemburu beasiswa yang saya temui juga telah memiliki rencana kedepan perihal bidang pendidikan yang akan membantu mereka menyelesaikan persoalan hidup yang dihadapi. Bagi saya, mereka akan menjadi orang-orang hebat di masa mendatang.

Untuk membantu pemburu beasiswa menuju mimpi yang dirancangkan, beasiswa adalah salah satu cara yang dijadikan jalan keluar. Alasan klasik dalam hal ini adalah,  beasiswa membantu mereka yang mengalami kekurangan dana untuk bisa tetap bersekolah.  Disamping keterbatasan dana, beasiswa hadir sebagai jembatan harapan bagi pemburu beasiswa untuk meredakan pergumulan yang sementara dihadapi. Dengan demikian, para pemburu beasiswa mencarinya dengan penuh semangat, karena beasiswa membuka kemungkinan bagi perubahan masalah-masalah yang sedang digumulkan oleh pemburu beasiswa menuju para yang lebih baik.

Tipe-Tipe dan Sasaran Beasiswa

Beasiswa studi lanjut mempunyai tipe yang berbeda-beda sesuai kebijakan pihak pemberi beasiswa. Ada ribuan bahkan jutaan beasiswa baik dari Universitas, negara, atau lembaga-lembaga swasta. Saya setidaknya membaginya ke dalam dua tipe, pembagian ini dilakukan berdasarkan pola pemberian bantuan dana itu sendiri.

Pertama adalah beasiswa fully funded (bantuandana penuh) yang berarti pihak pemberi beasiswa memberikan bantuan dana secarakeseluruhan bagi penerima beasiswa yang mencakup biaya kuliah, transportasi danbiaya hidup (living cost). Kedua adalah half funded, secara garis besar beasiswa ini hanya menanggung setengah dari biaya yang diberikan oleh fully funded atau cakupan biaya tertentu yang diputuskan oleh pihak pemberi beasiswa tetapi tidak bersifat penuh.

Bagian berikutnya yang mencolok dari beasiswa adalah sasaran pemberian. Sasaran pemberian beasiswa biasanya meliputi tiga tipe, (1) bidang pendidikan yang dituju oleh beasiswa, (2) penerima beasiswa, dan (3) area sasaran beasiswa. (1) Bidang pendidikan merupakan persoalan-persoalan masyarakat yang menjadi perhatian utama untuk diselesaikan oleh pihak pemberi beasiswa. Misalnya kita bisa melihat beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang disediakan oleh Menteri Keuangan RI. LPDP membuka peluang bagi seluruh bidang pendidikan (seperti agama, ekonomi, biologi, kedokteran, agraria, parawisata dst), karena LPDP menagihkan masalah-masalah di Indonesia yang begitu kompleks sehingga membutuhkan penyelesaian dari banyak bidang ilmu. Terkadang ada beasiswa yang hanya membuka peluang bagi 5-10 bidang saja bahkan satu bidang saja, tergantung persoalan yang sedang dikonsentrasikan untuk bisa diselesaikan.

Sasaran berikut adalah (2) penerima beasiswa. Sasarannya tentu saja adalah orang-orangyang berkompoten sesuai dengan  kriteria penyedia dana beasiswa. Proses penerimaan dan persetujuan pun beragam. Umumnya pemburu beasiswa akan diminta untuk mengikuti proses seleksi yang diadakan. Proses perekrutan pun berlangsung secara beragam, tapi secara umum syarat administratif dan tes wawancara adalah proses yang wajib ada, proses lainnya bersifat tipikal pada pola masing-masing pemberi beasiswa. Orang-orang yang kemudian menjadi penerima beasiswa biasanya adalah mereka yang cocok dan sesuai dengan profil yang dicari olehpihak pemberi beasiswa. Alasan diterima dan ditolak biasanya tidak diberitahukan dan dirahasiakan oleh pihak pemberi beasiswa sehingga penguatan profil diri dengan visi dan misi pemberi beasiswa menjadi faktor utama yangmesti dipersiapkan dan dipahami secara matang oleh para pemburu beasiswa.

(3) Selanjutnya area sasaran beasiswa. Tipe ini bersifat teritorial, biasanya parapenyedia dana beasiswa memiliki daerah pengembangan tertentu. Tidak selalu berkaitan dengan pengembangan ilmu saja, tetapi terkadang pemberi beasiswa ingin meningkatkan keintiman dalam berhubungan dan meningkatkan pemahaman antar-budaya. Beasiswa dengan model seperti itu biasanya diberikan dari satu negara ke negara lain misalnya beasiswa kedutaan yang diberikan oleh negara lain di Indonesia, dimana negara bersangkutan mengirimkan orang Indonesia belajar dan melakukan kontak kebudayaan dengan negara yang memberikan beasiswa. Lebih lanjut, pemberi besiswa melakukan pemberdayaan daerah tujuan dengan memberikan beasiswa bagi masyarakat daerah tujuan untuk bisa meningkatkan sumber daya masyarakat di daerah tujuan. Di Indonesia tindakan tadi juga dilakukan oleh pihak Menteri keuangan melalui beasiswa LPDP Afirmasi. Pada beasiswa luar negeri seperti Chievening(Inggris), Orange Tulip dan Stunned (Belanda) Belgian Scholarship (Belgia),Eiffel Scholarship (Perancis) dan beasiswa negara lainnya, sifat afirmatif juga terlihat dari beasiswa tersebut dengan pemberian negara tujuan beasiswa oleh beasiswa-beasiswa tersebut.

Dua Tipe Pemburu Beasiswa di Indonesia

Para pemburu beasiswa yang saya temui datang dari berbagai latar belakang pendidikan dan pergumulan hidup yang beragam. Mereka adalah orang-orang yang telah bergumul dan berhasrat untuk merubah persoalan hidup yang mereka jumpai. Sehingga, dengan kata lain para pemburu beasiswa adalah mereka yang mempunyai keinginan untuk merubah keadaan hidup.

Kendati demikian, dalam kubu para pencari beasiswa juga terbangun hubungan yang terkadangkurang harmonis. secara umum saya membaginya ke dalam 2 tipe ketakharmonisan relasi antara para pemburu beasiswa. (1) Relasi Timur-Barat, relasi seperti ini sering saya alami sendiri. Sebagai anak yang lahir dan dibesarkan di daerah Nusa Tenggara Timur, saya mendapat kesempatan untuk mendaftarkan diri pada berbagai beasiswa yang dibuka khusus untuk daerah saya di Indonesia Timur. Tentu kita ketahui bersama bahwa daerah Indonesia Timur dalam banyak hal memiliki ketertinggalan yang jauh dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian barat. Maka orang-orang Indonesia Timur diberikan kesempatan, dalam artian tertentu, yang lebih besar untuk memperoleh beasiswa pada berbagai tipe.

Pada kalangan anak-anak Indonesia bagian barat, kami anak-anak Timur lainnya dinilai diperlakukan istimewa dan terlalu digampangkan dalam urusan mendapatkan beasiswa .Percakapan dan penilaian seperti itu tidak saya karang sendiri, namun saya alami sendiri dan sering saya dapati sewaktu berbincang-bincang dengan teman-teman para pemburu beasiswa di Indonesia yang berasal dari Indonesia barat. Miris memang, tetapi itulah yang terjadi.

Sikap para pemburu beasiswa Indonesia barat bagi saya terlalu berlebihan dan salah kaprah. Dari beberapa diskusi saya dengan anak-anak penerima beasiswa dari Timur, salah satunya adalah Josua Maliogha misalnya, pintu-pintu beasiswa yang dibukakan secara khusus untuk Indonesia Timur merupakan sebuah tindakan afirmatif. Maksudnya, beasiswa tersebut adalah bantuan khusus untuk menciptakan keseimbangan kemajuan bagi Indonesia Timur karena daerah tersebut oleh berbag aialasan tertentu tidak mendapatkan pelayanan yang adil seperti di Indonesia bagian barat. Pada tulisan lain saya pernah menjelaskan ketidakadilan ini sebagai dampak dari era Soeharto (lihat tulisan tersebut dalam blog ini). Oleh karena itu, pemberian jalur beasiswa yang lebih banyak pada Indonesia Timur bukansuatu “jalan tol” bagi anak-anak Timur untuk bisa melanjutkan studi danselesai. Tetapi justru jika diperhatikan lebih seksama, beasiswa ini justru secara kualitas lebih berat bagi anak-anak Timur secara luas (NTT, Papua dan Maluku) karena seusai sekolah mereka diberikan tanggung jawab yang lebih berat yakni bekerja keras untuk menciptakan kemajuan di daerah masing-masing.

Dengan kata lain, yang menjadi perhatian saya adalah para pemburu beasiswa di bagian barat lebih menitik beratkan pada sisi “bantuan dananya” saja, mereka melupakan tujuan utama dari pendidikan itu sendiri yakni meciptakan “pembebasan” bagi mereka yang tertinggal dan selama ini dibodoh-bodohi oleh para penguasa dan pemilik tongkat ilmu di negara kita. beasiswa lebih dari sekedar pergi ke luar negeri, jalan-jalan, belajar, bisa pamer, dan pulang. Beasiswa hanyalah sekedar“alat” bantu untuk menuju mimpi para pemburu beasiswa yang tentu saja mulia pada porsinya masing-masing. Banyak orang Indonesia yang menciptakan perubahan bagi masyarakaat tanpa beasiswa dan bahkan berpendidikan tidak tinggi.  Kita bisa melihat Mentri Susi yang sudah mampu menjadi Menteri walau hanya menempuh pendidikan sampai Sekolah menengah Pertama (SMP). Di daerah saya, kami memiliki Mama Aletha Baun, peraih Goldman Environment Award 2013 atas upayanya melindungi alam Molo di Nusa Tenggara Timur, yang juga hanya seorang tamatan SMP.

Tipe berikutnya adalah perlombaan. mereka saling memandang pemburu beasiswa lainnya dari kacamata ilmu masing-masing. Terkadang relasi yang dibangun adalah perlombaan, masing-masing orang memandang bidang ilmu mereka saja yang akan membangun Indoensia. Hal ini umumnya terjadi karena para pemburu beasiswa terlalu banyak membatasi diri pada bidang ilmu masing-masing dan jarang mencoba untuk menemukan kebaikan pada bidang ilmu lainnya. Sebagai contoh, saya pernah dimintai pertanggungjawaban oleh beberapa teman saya yang gerah dengan permainan isu agama dalam politik Indonesia. Teman-teman saya menuduh bahwa agamalah yangmenjadi faktor rusaknya perpolitikan Indonesia, konflik islam-Kristen dan terorisme dijadikan sebagai contoh betapa agama menjadi “pelaku”kemunduran bangsa. Saya lantas mencoba menjawa sebisa saya untuk memberikan pertanggungjawaban. Singkat cerita, relasi perlombaan dan pen-kambing-hitaman di dunia akademik memang sudah terjadi bahkan sebelum para pakar dan akademisi itu melanjutkan studi.

Tipe perlombaan terkadang tidak terlihat secara terang-terangan seperti relasi barat-timur tadi, tetapi sering terjadi saat para pemburu beasiswa bergabung dengan orang-orangyang memiliki  kesamaan latar belakang pendidikan. Tipe perlombaan membuat dunia akaemik dan berburu beasiswa kian menjadi terlalu kaku dan tidak cair. Padahal, di dunia nyata, persoalan masyarakat justru akan semakin cepat terselesaikan apabila terdapat kerjasama antara para akademisi. Tidak ada masalah yang lahir karena satu faktor saja. Secara idealisme, bangsa kita mengakui bahwa jalan keluar atas masalah yang ada di Indonesia hanya bisa terjadi apabila terdapat “kesatuan” antar warga negara (Sila ke-3), untuk membawa bangsa kita ke arah yang lebih baik.

Melampaui Tipe Timur-Barat dan Perlombaan

Persoalan khas yang terjadi di kalangan pemburu beasiswa adalah keretakan relasi. Relasi yang selama ini dibangun hanyalah bersifat mutualis, tukar-menukar info beasiswa, dan lain sebagainya. Saya melihat bahwa selama ini para pemburu beasiswa pada dasarnya memiliki pergumulan yang sama, sikap yang selama ini belum dibangun adalah persahabatan. Para pemburu beasiswa perlu bersahabat satu sama lain. inipenting, dan teramat penting untuk dilakukan.

Konteks persahabatan, menurut Brian Edgar God is Friendship: A Theology of Spirituality, Community,and Society (Seedbed Publishing, 2013), menjamin ketiadaan relasi tuan dan hamba, serta relasi saling menungguli satu sama lain. Yang ada hanyalah relasi kejujuran dan kebaikan. Kedekatan menjadi kunci kehidupan yang harmonis, dan pergumulan hidup setiap pihak dijadikan sebagai persoalan bersama. Relasi persahabatan memungkinkan terciptanya kerhamonisan dalam perbedaan.

Edgar dalam bukunya menunjukan persahabatan adalah unsur penting dalam masyarakat publik, sebab perbedaan adala ciri dari kehidupan, makan perlu persatuan dalam perbedaan. Nilai kebersamaan itu Edgar refleksikan lewat karya Kristus bersama para muridnya, persahabatan memunkinkan Yesus mampu merangkul berbagai orang yang ia layani, yang tentu saja datang dari latar belakang yangberbeda dan bahkan dikucilkan oleh pihak mayoritas pada zamannya. Dalam persahabatan, perbedaan dihormati dan diharga pada porsinya masing-masing. Perbedaan bahkan diyakini mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan bersama, asalkan para individu memusatkan diri pada pokok persoalan yang sedang digumulkan dan bukan pada kuantitas atau kualitas semata yang ada pada masing-masing pihak.

Relasi persahabatan bagi saya adalah jalan keluar atas tipe Timur-Barat dan Perlombaan yang sementara dibangun oleh para pemburu beasiswa di Indonesia. Para pemburu beasiswa terlalu sibuk menghitung kerugian dan keuntungan yang diberikan pihak pemberi beasiswa dan lupa akan tujuan utama mereka untuk studi lanjut. Akhirnya terjadi sikap sikut-sikutan antara dalam kubu pemburu  beasiswa itu sendiri yang perlahan-lahan merusak niat baik dalam hati mereka masing-masing. Para pemburu beasiswa lebih banyak memberikan perhatian pada cara mendapatkan beasiswa daripada kegunaan ilmu yang mereka akan dapatkan.

Dalam relasi persahatan, tidak akan ada yang merasa lebih hebat dan lebih menderita. Semua pihak berada dalam relasi membangun satu sama lain, menganggap yang lain adalah penting dalam penuntasan persoalan yang terjadi. Para pemburu beasiswa, mesti mulai melihat bahwa setiap bidang ilmu dan pihak, memiliki kontribusi atas persoalan yang sedang dihadapi, tinggal bagaimana para akademisi mulai memberikan ruang bagi setiap orang, ruang “aku”menjadi “kita”. Dari perlombaan menjadi komunitas pemburu beasiswa yang siap bekerja sama untuk menciptakan Indonesia yang maju dan harmonis.

Selanjutnya relasi persahabatan meleburkan pembagian Indonesia Barat dan Timur. Tiap pihak mulai melihat bahwa penderitaan adalah narasi bersama. Ketertinggalan yang tercipta di Indonesia Timur tidak dapat  diselesaikan oleh orang-orang Timur itu sendiri. mesti ada tangan-tangan yang datang untuk membantu. Begitupula ketidakadilan yang terjadi di Indonesia Timur-pun juga dapat tercipta dan bahkan telah ada di Indonesia Barat. Orang-orang di Indonesia Barat mesti mulai berbenah diri bahwa kenikmatan yang mereka rasakan didapatkan lewat penindasan terselubung yang dilakukan oleh pemerintah  di zaman dulu dan masa sekarang. Relasi persahabatan mesti hadir pada kedua belah pihak dan mulai melihat bahwa ada ke-Kita-an yang harus dikedepankan yaitu persatuan di negara Indonesia. Masing-masing tempat memiliki potensi untuk menciptakan kemajuan bagi bangsa Indonesia, melalui berbagai bidang dan lini kehidupan yang dianugrahkan Tuhan di tanah kita Indonesia.

Saya percaya persahabatan mampu membantu kita melampaui setiap sifat negatif yang lahir dari hati para pemburu beasiswa saat ini. Kita mesti melihat bahwa kita adalah sahabat dalam peziarahan yang kehidupan untuk memuliakan nama Tuhan lewat pengabdian ilmu dan diri kita. Beasiswa hanyalah alat bantu bagi kita untuk sampai pada tujuan itu. Setiap kita punya keinginan mulia yang tidak boleh dirusak oleh pernah-pernik beasiswa itu sendiri. Tentu dengan berangkat dari posisi persahabatan, kita semua akan mampu merawat dan membentuk kehidupan yang kita idealkan dengan tidak lagi berangkat dari sudut pandang keilmuan dan identitas kita yang cenderung mempersempit cara pandang kita dalam melihat, merefleksikan, dan menghidupi kehidupan.